Catatan 10 Tahun Lumpur Lapindo

Jum, 30 Des 2016 11:50 WIB

  Esai Berita

 10tahunlapindo lombaesai

ekowidodo

Semburan lumpur Lapindo yang terjadi pada 29 Mei 2006 telah  menenggelamkan 13  desa di 3 Kecamatan dan setidaknya lebih dari 75 ribu jiwa terusir dari kampung halamannya. Bencana industri yang disebabkan atas kelalaian mekanisme pemboran dari satu perusahaan tambang migas PT. Lapindo Brantas Inc. ini berdampak buruk pada kelangsungan hidup korban. Delapan ratus hektar lebih luasan dari luberan lumpur Lapindo yang sudah merendam 13 desa tersebut. selain merendam rumah, lumpur Lapindo juga merendam lahan-lahan produksi milik petani.

Dalam peristiwa ini pemerintah hanya melihat kerusakan yang terjadi adalah kerusakan fisik (tanah dan bangunan) namun kerusakan-kerusakan yang lain dan kehilang-kehilangan yang lain tidak dilihat oleh pemerintah. 

Degradasi lingkungan yang disebabkan oleh cemaran dari semburan lumpur Lapindo mempengaruhi kualitas kesehatan masyarakat disekitar lumpur Lapindo. Hasil dari uji kesehatan pada tahun 2010 menunjukkan 75% warga mengalami kelaianan pada hematologi lengkap.

Selain itu tren penyakit yang ada di 3 puskesmas (Jabon,Porong, dan Tanggulangin) menunjukkan penyakit pernafasan mengalami kenaikan yang signifikan. Data dari puskesmas porong menunjukkan ada tahun 2005, penyandang penyakit ISPA hanya 23 ribu jiwa dan pada tahun 2009 meningkat hingga sampi 52 ribu jiwa.

Selain mencatat rekam penyakit yang ada di Puskesmas sekitar Lapindo, pada tahun 2012 sekitar 81% warga mengalami obtruksi paru (penumbatan paru-paru).

Pada tahun 2016 catatan pemeriksaan kesehatan korban menunjukkan 50%  mengalami kelainan pada pemeriksaan darah dan urin 20% mengalami kelainan pada thorax.

Hasil pemeriksaan DARAH LENGKAP:

4 LED : laju endap darah, jika nilai lebih dari nilai rujukan menunjukkan kekentalan darah tinggi sehingga viskositas tinggi.

5 WBC: White Blood Count / sel darah putih. Sel darah putih yang meningkat memungkinkan adanya infeksi bisa akut. Misalnya sedang batuk atau flu disertai peningkatan suhu badan, atau kronis (lama) yang sudah tidak lagi disertai peningkatan suhu tubuh (ini yang lebih berbahaya). Biasanya infeksi yang agak serius misalnya kanker atau infeksi di ginjal dan saluran kencing. 

Hasil pemeriksaan URINE LENGKAP:

8 Eri : di dalam urin (kencing) terdapat eritrosit/sel darah merah. Hasil ini menunjukkan adanya perdarahan pada saluran kencing. Penyebab bisa batu ginjal, tumor, atau ginjal bekerja terlalu keras akibat darah yang minim dan kekentalan darah yang tinggi.

6 Leu : leukosit /sel darah putih. Apabila ada infeksi pada sal kencing maka jumlah leukosit akan meningkat karena sel ini bertugas untuk melindungi tubuh dari infeksi

7 Epithel : merupakan sel yang menyusun permukaan ginjal. Jika terdapat epitel pada urine kemungkinan besar terjadi infeksi

Silinder : endapan protein yg terbetuk di ginjal. Ini menunjukkan adanya penyakit serius (radang ginjal).

Temuan-temuan dari hasil pemeriksaan dan pemantauan kesehatan ini terlihat adanya  keterhubungan/korelasi antara kualitias lingkungan yang buruk  mempengaruhi penurunan kualitas kesehatan. Lumpur Lapindo dalam temuan pada 2008 menunjukkan kadar logam berat (timbal dan kadmium) 1000 kali lipat dari ambang batas normal. Pada tahun 2014  logam berat diatas ambang batas terdapat pada tubuh ikan.

Dalam analisis kesehatan yang dilakukan pada Mei 2016 jika dikaitkan dengan kondisi lingkungan setempat sangat dimungkinkan disebabkan karena kontaminasi logam berat :

1. Pb (timbal) : bisa menyebabkan akut ataupun kronik nephropathy (gangguan ginjal), menyebabkan penyakit jantung (hipertensi, iskemia/kurang oksigen)

2. Cd : juga menyebabkan gangguan ginjal, emphysema/kekakuan paru

Menurunannnya kulitas kesehatan ini menjadi perhatian penting untuk menjamin kelangsungan hidup korban . akan tetapi pemerintah sampai hari ini tidak ada upaya untuk memulihkan kondisi lingkungan dan hak-hak korban yang terenggut.

Selain pemeriksaan logam berat, pemeriksaan udara juga menjadi penting untuk dilihat. Persoalan ini dikarenakan asap yang dikeluarkan oleh Semburan Lapindo mengandung zat Hydrocarbon yang dimana dampak yang dihasilkan adalah penyakit kanker. Pemantauan udara pada tahun 2016 adanya zat clorhine yang sangat tinggi di sekitar area lumpur Lapindo. Pamntauna udara ini menggunakan alat yang namanya eco checker yang berbahan dari logam. Eco cheker ini dipasang di 5 titik dan 1 titik kontrol di Surabaya. Hasilnya adalah di Pos Portal Siring menunjukkan zat clhorinenya sangat tinggi.

Dampak yang lain adalah menurunnya kualitas  Air sungai Porong dan Sungai Aloo. Dalam pemantauan dengan menggunakan metode bio monitoring (2016) yakni memeriksa biota-biota yang tidak bertulang belakang sebagai indikator pencemaran sungai. menunjukkan 2 sungai yang dibuangi lumpur Lapindo tercemar. 

pemulihan hak dasar terkait dengan hak kesehatan, hak ekonomi, hak pendidikan dan hak sipil Politik seharusnya menjadi prioritas pemerintah dalam memulihkan kehidupan korban Lapindo. Akan tetapi upaya yang dilakuan oleh masyrakat khususnya para komunitas-komunitas di wilayah Porong sampai hari ini belum mendapatkan titik terang dari pemerintah.

Banyak warga korban Lapindo yang tergabung dalam Perpres 14/2007 tidak mendapatkan hak kesehatan dari pemerintah. Disamping itu status kependudukan warga korban yang desanya sudah tenggelam (Siring,Jatirejo, renokenongo) tidak diakui oleh instansi manapun baik dari Puskesmas bahkan dalam pemilu, korban Lapindo tidak terdaftar dalam daftar pemilih tetap KPU.

Kejanggalan ditemukan pada tahun 2012 dimana masyarakat korban (siring, Jatirejo, Renokenongo) masih memegang kartu kependudukan E-KTP desa asal mereka. Namun hal ini ketika berbicara soal data perlindungan sosial dan data apapun, pemerintah kabupaten Sidoarjo ketika dimintai informasi terkait data itu ternyata tidak punya. Selain tidak terdaftar sebagai daftar pemilih tetap KPU, Korban Lapindo yang ada diwilayah porong (Siring,Jatirejo,Renokenongo) juga tidak terdaftar dalam program pendataan perlindungan sosial pemerintah tahun 2011. Dampak yang dihasilkan adalah mereka para korban tidak mendapatkan jaminan kesehatan, jaminan, sosial dan jaminan pendidikan sebagai program utama pemerintah. Ditambah lagi wacana penghapusan nama-nama desa yang sudah terendam sudah mulai digodok oleh DPRD Sidoarjo. hal ini berdampak pada kejelasan status kependudukan, hak politik, dan jaminan-jaminan yang menjadi program pemerintah menjadi sangat jauh untuk korban Lapindo mendapatkan itu.

Catatan pemerintah kabupaten Sidoarjo hanya mamasukkan setidaknya 85 keluarga di desa Siring dan Jatirejo sedangkan Renokenongo tidak tercantum dalam PPLS 2011. Hal ini sangat berbeda jauh ketika berbicara soal data kependudukan yang ada di Sidoarjo. Badan Pusat Statistik merilis data tahun 2014 tentang statistik kecamatan Porong.

Data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik ini sangatlah tidak relevan jika melihat data PPLS 2011 dimana tidak ada 1 pun warga atau keluarga dari desa Renokenongo yang masuk dalam program perlindungan tersebut padahal sesuai yang ditulis oleh badan Pusat Statistik tahun 2014 desa Renokenongo berpunduduk 5.328 jiwa, desa Siring 3794 jiwa, dan desa Jatirejo 3314 jiwa.

Selain itu banyak korban Lapindo yang kehilangan pekerjaan mereka. hal ini dikarenakan pabrik-pabrik sudah terendam. mereka (para korban Lapindo) banyak yang beralih profesi dari yang dulunya buruh pabrik menjadi tukang ojek tanggul dan ada juga yang dulunya bertani sekarang tidak lagi bertani dikarenakan lahan produksinya sudah terendam lumpur.

Sampai hari ini belum ada penanganan khusus dari pemerintah untuk memulihkan lingkungan dan hak warga korban. Ditambah lagi tidak adanya asistensi dari pemerintah yang kemudian berdampak bagi korban Lapindo dalam persoalan kepindahan mereka.

Besarnya dampak semburan lumpur Lapindo selama 10 tahun terhadap situasi sosial dan ekologi wilayah harus mampu dijawab oleh pemerintah dengan mekanis penyelamatan dan pemulihan hak-hak rakyat yang telah terenggut.

 

blog comments powered by Disqus