Dongeng Hitam-Putih Hukum dari Kendeng

Sen, 30 Jan 2017 23:30 WIB

  Berita Foto fotonovela

 lombafotonovelawartahijau lombafoto daruratkendeng

shandyanggar

Apakah pendirian pabrik semen di kawasan Pegunungan Kendeng Utara benar-benar memberi kesejahteraan kepada warga sekitar, seperti yang selama ini digaung-gaungkan pemerintah? Jika asumsi tersebut memang benar adanya, mengapa masih harus ada warga Pegunungan Kendeng Utara yang bertahun-tahun menempuh ratusan kilometer, diterpa hujan dan panas, tak kenal lelah siang maupun malam, hanya untuk memperjuangkan keadilan, hanya untuk melawan dengan sebaik-baiknya dan sehormat-hormat di negara yang konon merupakan negara hukum ini?

 

16 November 2015. Di antara 122km jalan menuju PTUN Semarang. Mengapa perempuan harus menjadi garda depan tiap perlawanan terhadap perusakan alam? Karena dampak perusakan terhadap alam pertama kali akan dirasakan oleh perempuan.

 

28 Oktober 2016. Omah Sonokeling, Pati. Setiap gerakan perlawanan merupakan suatu upaya yang berkelanjutan. Perayaan Sumpah Pemuda di Kendeng merupakan simbol pentingnya generasi muda untuk melanjutkan perjuangan dalam penyelamatan Ibu Bumi.

 

 

7 Desember 2016. Di antara 150km jalan menuju kantor Gubernur Jawa Tengah. Gugatan yang telah mereka menangkan di MA pada 5 Oktober 2016 ternyata tak serta-merta membuat pemerintah Jawa Tenggah membatalkan pendirian dan menutup pabrik semen di Rembang. Sekali lagi, keadilan harus dijemput.

 

26 Desember 2016. Aksi teatrikal dari kawan-kawan komunitas punk di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah. Salah satu hal yang paling menentukan dalam memperluas skala perjuangan adalah rasa solidaritas yang melampaui setiap sentimen egoisme dan melintasi tiap sekat-sekat identitas dan latar belakang. 

 

27 Desember 2016. Hukum yang selama ini digadang-gadang sangat hitam-putih untuk memutuskan benar-salah ternyata hanya dongeng belaka. Warga pegunungan Kendeng masih harus berjuang dengan mendirikan tenda perjuangan berhari-hari di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah  -pasca hari kelima harus beralih memayungi diri karena tenda mereka dirampas Satpol PP untuk menuntut eksekusi putusan MA yang telah mereka menangkan.

 

 

Namun, ketika hukum sering kali dikangkangi para pengambil kebijakan dan keadilan ditangguhkan demi kepentingan akumulasi kapital, sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya tugas setiap warga negara adalah dengan tak henti-henti melawan demi terwujudnya keadilan. Kendeng lestari!

 

shandyanggar |

Old-skool reader.

blog comments powered by Disqus