Kisah Sukses Pengusir Tambang dari Pesisir Bengkulu

Sel, 10 Jan 2017 11:36 WIB

  Esai

 lombaesai lombaesaiwartahijau

firman

 

Wajah Andi Wijaya (40) terlihat bersahaja, sore itu ia baru saja menjualkan hasil kebunnya yakni buah kelapa sawit. Dari kebunnya seluas dua hectare ia mendapatkan uang sekitar Rp 1,5 juta untuk dua minggu. Mendapatkan uang, Andi langsung membeli kerang pantai dan sejerek (seikat) ikan.

“Ini gulai kita malam nanti, kerang pantai dan ikan. Nanti isteri saya yang akan memasaknya,” kata Andi Wijaya.

Andi Wijaya merupakan warga Desa Rawa Indah, Kecamatan Ilir Talo, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu. Andi Wijaya merupakan salah satu dari ratusan tokoh masyarakat daerah itu yang pada tahun 2005 berjuang gigih mengusir sebuah perusahaan tambang pasir besi yang melakukan eksploitasi di pesisir pantai tempat masyarakat berdomisili dan menggantukan hidup pada laut serta pertanian.

Andi Wijaya

Menuju jalan pulang ke rumahnya, Andi mengisahkan catatan perjuangan panjang yang dilakukannya bersama ribuan masyarakat pesisir pantai mengusir aktifitas pertambangan.

“Kerang pantai dan ikan, ini merupakan buah panjang perjuangan masyarakat mengusir tambang. Karena kalau tambang masih beroperasi pesisir pantai akan habis, tidak ada lagi kerang khas dan ikan ini,” ujarnya tertawa lepas.

Tidak kurang dari enam tahun Andi Wijaya dan masyarakat lainnya berjuang gigih mengusir tambang. Awal mula tambang masuk ke kampungnya pada tahun 2005 dimulai dengan rentetan yang sama sekali tak memperhatikan keberadaan masyarakat. Proses pembuatan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), eksplorasi hingga eksploitasi yang mencemaskan keberadaan kampung dan kondisi lingkungan pesisir pantai.

Andi seolah mengajak kembali pada tahun 2005, saat ia dan ribuan masyarakat berjuang mengusir tambang. Tidak saja kaum pria namun ibu dan anak juga turut serta. Menurut Andi, terdapat dua desa yang terkena aktifitas pertambangan pasir besi tersebut yakni Desa Penago Baru dan Rawa Indah. Kedua desa tersebut berada di pesisir pantai mayoritas penduduknya bergantung pada laut dan kebun.

Kedua desa ini kaya akan bahan tambang biji besi, dalam dokumen Amdal tercatat setidaknya terdapat 21 ribu metric ton bijih besi berserak di bawah kedua kampung itu. Sementara perusahaan saat itu memegang izin konsesi seluas 3.645 hektare.

Pihak perusahaan tambang saat itu ingin mengeruk 1 juta ton biji besi per tahun, 60 persennya diekspor dengan nilai 1,1 juta US dolar, jika dirupiahkan saat itu berkisar Rp 12,55 miliar dengan keuntungan Rp 4,05 miliar.(Buku: Kabar dari Pulau, Diterbitkan Jatam 2009).

Pemerintah daerah saat itu mendukung aktifitas pertambangan dengan dalih investasi dan menyerap tenaga kerja. Protes warga mulai muncul namun belum terorganisasi dengan baik. Protes itu muncul saat masyarakat mengusir pekerja tambang yang melakukan survey ke lokasi perkebunan milik warga.

Kondisi pesisir pantai di Desa Rawa Indah, penuh dengan pasir besi

Akibat pengusiran dan protes warga menyebabkan pihak kepolisian turun tangan, intimidasi dari pihak perusahaan yang menggunakan pihak preman juga mulai bermunculan. Seperti tak mendengar keluhan dan protes warga perusahaan tetap saja bekerja.

Dikawal dengan aparat Brimob, pertambangan mulai melakukan eksploitasi, bibir pantai mulai dikeruk. Pengerukan mulai berdampak, penumpukan material di mulut sungai menyebabkan banjir saat pasang laut dan hujan. Banjir menyebabkan rusaknya akses jalan dan jembatan desa menuju kota.

Sementara itu puluhan kaum ibu yang menggantungkan hidup pada pekerjaan mencari kerang di tepi laut juga mulai berteriak. Pantai menjadi rusak, habitat kerang yang bernilai eknomis bagi kaum ibu mendadak punah.

Kecemasan mulai bertambah saat perusahaan mulai mengarahkan aktifitas pertambangan menuju permukiman. Perpecahan dalam tubuh masyarakat tentu tak dapat terelakkan. Ada kubu yang pro tambang dan banyak yang menolak pertambangan.

Kubu yang berpihak tambang umumnya pekerja tambang seperti sekuriti dan pekerja kasar di perusahaan tamabang, namun ini sedikit jumlahnya. Sementara kelompok yang menolak adalah masyarakat petani, nelayan, yang terganggu karena pantai, dan kebun mereka mulai disasar aktifitas pertambangan.

Berserikat dan Berkumpul

Kondisi kampung semakin kritis, protes pada pemerintah sudah beberapa kali dilakukan namun masih bersifat individu. Protes tersebut seperti menemukan ruang gelap tak berujung. Sadar akan kelemahan, warga berkonsolidasi dan membentuk Front Rakyat Penyelamat Lingkungan Hidup (FRPLH).

Andi Wijaya terpilih sebagai ketua koordinator didampingi oleh beberapa tokoh lainnya seperti Sailun, Sakal, dan beberapa kaum muda militant lainnya. Langkah pertama yang mereka lakukan adalah mengirimkan surat petisi penolakan tambang. Surat ditujukan mulai dari presiden hingga kepala desa setempat.

Kelang beberapa pekan surat petisi penolakan tambang mereka sebar, Pemda Seluma kelabakan karena banyak sekali menerima surat dari berbagai instansi yang intinya meminta agar aktifitas pertambangan dicabut atau dikaji ulang.

Aksi protes lewat surat dilakukan, gebrakan pertama ini sempat merepotkan pemerintah setempat dan mengumpulkan warga. Namun permintaan warga agar perusahaan hengkang dari kampung tak dapat dipenuhi.

Aksi berlanjut dengan menggelar unjuk rasa ribuan warga menduduki kantor Bupati Seluma selama tiga hari. Aktifitas perkantoran lumpuh total, sekali lagi perhatian publik mengarah ke dua desa terpencil yang berada di pesisir tersebut.

Andi Wijaya mengisahkan, ia tak dapat lagi menghitung sudah puluhan kali dirinya dan warga menggelar unjuk rasa, bertemu dengan menteri, Komnas HAM, diundang memberikan testimony pada acara penolakan tambang di forum nasional dan internasional.

salah satu aksi unjuk rasa yang pernah digelar masyarakat saat menolak tambang

Tak tahan dengan protes warga yang bertubi-tubi, ketegangan di tingkat kampung antara masyarakat dengan pekerja tambang serta beberapa aksi boikot, secara perlahan pada tahun 2009 perusahaan tambang pasir besi mengehentikan aktifitasnya hingga saat ini.

“Ada hikmah yang kami dapat dalam perjuangan mengusir tambang, bahwa kebutuhan itu harus berasal dari masyarakat, kompak, dan jangan lelah, fokus pada target,” jelas Andi.

Banyak pengalaman dan pengetahuan yang didapat dari berproses mengusir tambang dari kampung. Pengalaman itu meliputi organisasi, kepemimpinan, lobby, pendekatan politik, hingga melakukan mobilisasi massa dan melakukan pengumpulan dana perjuangan.

“Dalam berjuang kami selalu patungan dari hasil perkebunan warga, dana itu kami kumpulkan dan mampu memobilisasi ribuan warga hingga menduduki kantor Bupati Seluma,” kenang Andi.

Keberhasilan warga Desa Rawa Indah dan Penago Baru mengusir tambang menjadi inspirasi banyak wilayah di Bengkulu yang berada dalam cengkraman pertambangan. Warga dua desa tersebut kerap diundang oleh warga desa lain untuk berkonsultasi mencari jalan keluar jika terjadi konflik pertambangan.

Tambang Tak Pernah Menguntungkan

Andi Wijaya menggaris bawahi, pertambangan tak pernah menguntungkan rakyat kecil. Lihat saja di beberapa wilayah di Indonesia tambang menghasilkan kesengsaraan. Lubang galian yang menganga memakan korban, kerusakan tanah, termiskinkannya masyarakat, dan hancurnya lingkungan hidup.

Di Bengkulu lanjut Andi, ratusan miliar rupiah APBD digelontorkan untuk memperbaiki jalan umum karena rusak akibat mobilisasi truk yang mengangkut hasil tambang, termasuk kecelakaan akibat jalan rusak.

“Banyak warga yang mengalami kecelakaan lalu lintas karena jalan raya rusak akibat truk tambang, masyarakat ruginya berlipat-lipat akibat tambang,” tegasnya.

Sementara itu dari sisi royalty, di Bengkulu sebagai contoh pada tahun 2015 terdapat ratusan miliar royalty tak dibayarkan oleh perusahaan tambang pada negara yang beroperasi di daerah itu.(liputan6.com).

Data Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Bengkulu terdapat beberapa perusahaan yang merusak Sungai Bengkulu karena aktifitas tambang, perusahaan tersebut telah mendapatkan sanksi berupa denda.

Andi Wijaya dan masyarakat Desa Rawa Indah, Penago Baru, mengusulkan pada pemerintah untuk tidak menjadikan tambang sebagai pendapatan unggulan bagi daerah. Menurut mereka masih banyak potensi Bengkulu lainnya yang belum tergarap secara optimal.

“Selama pemerintah masih berpangku pada tambang, maka sampai kapanpun kami akan melakukan penolakan keras, berhentilah melihat tambang, mari lihat yang lain, ada potensi laut, pertanian, dan lainnya,” saran Andi.

Hari mulai beranjak petang, Andi Wijaya tiba di rumah disambut senyum isterinya. Kerang khas Pesisir Seluma dan seikat ikan sepertinya buah tangan sangat indah dari Andi untuk isterinya itu. Impian keluarga ini sederhana, hidup tenang tanpa dihantui oleh keberadaan tambang.

 

 

firman |

Alamat di Kelurahan Sidomulyo, Kota Bengkulu. Bekerja di Kompas.com kontributor di Provinsi Bengkulu. Berdomisili di Bengkulu Email: ivank_freud@yahoo.com

blog comments powered by Disqus