Lahan yang di korbankan demi tambang

Sen, 30 Jan 2017 07:15 WIB

  -

 lombaesaiwartahijau

Diyah

Suara gemuruh mulai terdengar belakangan ini. Bangunan asing kian terlihat. Asri udara yang selama ini dirasakan perlahan lahan terkontaminasi oleh polusi yang ada, bagaimana tidak? semenjak kedatangan proyek-proyek pertambangan migas semua  berubah seketika. Jalanan yang sepi mulai ramai terisi oleh kendaraan proyek, jalan raya sekitaran proyek pun sudah tidak semulus kala dulu, sudah mulai rusak  dan tidak terawat lagi karena banyak kendaraan besar yang berlalu lalang.

Masih teringat betul rasanya dahulu saat saya masih kecil disepanjang jalan terlihat jelas hamparan sawah nan hijau yang terhentang luas. Namun sekarang hal itu  mulai tak nampak lagi dan tergantikan oleh bangunan asing yang berdiri kokoh di tengah persawahan. Berawal dari hal ini saya bertanya-tanya ada apa sebenarnya, hingga akhirnya saya pun mencoba menelusuri dengan mengunjungi lokasi tersebut. Di sana saya menemukan sawah-sawah yang mulai hilang. 

Ternyata penyebabnya tidak lain karena masuknya perusahaan yang sedang mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia, berupa minyak dan gas bumi. Yang saya ketahui sawah merupakan hal yang sakral dan penting bagi masyarakat desa. Mayoritas penduduk Bojonegoro sendiri adalah petani dan bergantung pada sektor agraris. Tak usahlah muluk-muluk bahas Bojonegoro, kita semua pun juga tahu bahwa sebenarnya Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki tanah yang subur pada sektor agraris.  Namun pada dewasa ini hal itu sekan terlupakan dan teralihkan oleh sektor lain seperti pertambangan.

Akhirnya muncul pertanyaan baru di benak saya. Jika benar sawah masyarakat hilang karena diambil alih oleh tambang, lantas Bagaimana nasib mereka? Saya pun terus mencari tahu dan menemukan bahwa pembebasan lahan yang ada di Bojonegoro menghabiskan lahan yang cukup besar yakni sekitar 700Ha (Bappeda 2013). Hal itu bukanlah jumlah yang kecil melihat mata pencarian masyarakat sekitar adalah tani. Rata-rata orang hanya mempunyai 1-2 Ha ada pula yang cuma memiliki setengah Ha lahan, maka sudah berapa banyak kepala keluarga yang lahannya hilang dan dikorbankan untuk eksploitasi migas ini. 

Lokasi tempat pengeboran migas dikenal dengan istilah Blok Cepu Banyuurip. Konon katanya nama Banyuurip dikenal dari kata banyu artinya air dan urip artinya hidup. Air hidup maksudnya disini adalah minyak dan gas bumi yang ada dalam tanah. Sementara Cepu itu adalah salah satu nama Kecamatan di Jawa Tengah yang dulunya di sana juga terdapat sumber migas. Adapun lokasi Blok Cepu Banyuurip sendiri yang terpusat pada Kecamatan Gayam memiliki jarak yang tidak jauh dengan Kecamatan Cepu. 

Kebanyakan orang melihat bahwa adanya sumber migas ini merupakan hal yang istimewa, wow dan terkesan wahhh. Padahal pada kenyataannya tidak demikian, hal tersebut hanyalah kesan yang didapatkan jika orang hanya melihat dari luarnya saja. Tanpa tahu pasti keadaan yang sedang terjadi pada masyarakat yang tinggal dikawasan lokasi tersebut. Padahal jika tahu sebenarnya miris dan menyedihkan. 

Pertama penjualan lahan yang murah akibat kurangnya informasi masyarakat terkait akan dibangunnya sebuah pengeboran migas, membuat masyarakat rugi ternyata harga lahan cenderung terus mengalami kenaikan saat eksploitasi akan dilakukan. Selain itu harga lahan yang semakin mahal juga telah merambah ke daerah sekitar lokasi Blok Cepu Banyuurip, sehingga masyarakat yang telah menjual lahan ketika ingin membeli lahan kembali mereka terpaksa harus membayar mahal. Akibat adanya pembebasan lahan juga telah membuat masyarakat terpaksa kehilangan pekerjaan, karena sudah sedikitnya lahan untuk bertani. Sebagian dari mereka  terpaksa menjadi buruh tani di desa serta kota lain seperti Lamongan. Hal itu juga diperjelas saat saya bermain ke rumah Bapak Suparno.

“Sebagian yang pindah profesi karena sudah tidak ada tanah, jadi orang kerja mau jadi buruh tani disini tidak ada karena tanahnya tinggal sedikit sudah sempit, la nek sawahe ombo dia bisa buruh di tetangga-tetangga, la nek sempit gak bisa, la kadang tenaga kerja seratus yang dibutuhkan hanya lima orang jadi gak nutut”. 
(Kalau sawahnya luas dia bisa menjadi buruh di tetangga-tetangganya, jika sempit tidak bisa, terkadang tenaga kerja ada seratus sedangkan yang dibutuhkan hanya lima orang jadi tidak mencukupi), papar Beliau. 
    
Mendapatkan pekerjaan pada sektor non pertanian tidaklah mudah, mengingat basis masyarakat adalah tani. Apalagi pada sektor pertambangan, itu merupakan hal baru bagi masyarakat. Berbeda dengan tani pada industri tambang  persyaratan yang diajukan cukup banyak. Hal tersebut membuat masyarakat mengalami kesulitan karena mereka memiliki latar belakang pendidikan yang rendah. Untuk menjawab kebenaran ini pun saya berjalan – jalan di sekitaran desa dan berbicara dengan salah seorang pemuda, yaitu saudara Panjinan. Ia menjelaskan bahwa : 

“Hari-hari ini sudah banyak yang ngeluh, kalau dulu masih nggak kenal proyek, biasanya kalau nggak punya uang sawah masih ada, kalau hari gini sawah sudah nggak ada mau kerja susah”.

Masyarakat yang berhasil keluar dari masalah pertanian, dan mendapat pekerjaan pada sektor non pertanian juga mengalami dilema. Sistem kontrak pada industri tambang mengharuskan masyarakat mencari pekerjaan baru ketika kontrak telah habis. Berbeda dengan pertanian, selama sawah masih ada mereka dapat bekerja kapan saja. Hal yang menjadi pertanyaan saya pun cukup terjawab oleh pernyataan Bapak Jumangin saat saya berkeliling sekitar lokasi proyek. Beliau adalah salah seorang pemilik sewa parkir sepeda motor yang dahulunya bekerja sebagai petani. Ternyata benar bahwa adanya proyek migas sebenarnya menjadi kekhawatiran dan kecemasan masyarakat. Hal tersebut diungkapkan oleh Bapak Jumangin:

“Nek wes mari proyek ape opo mbak, wong yo wong goblok, isoe Cuma tani”
(Kalo proyek sudah selasi, namanya orang bodah mau bagiamana, jika yang dilakukan hanya bisa bertani).

Terlepas dari masalah pekerjaan, hal yang juga miris adalah ketika masuknya budaya baru, budaya modern, budaya perkotaan yang pelan-pelan telah menggeser kebudayaan yang sudah ada. Masyarakat desa yang dahulunya bersifat sederhana, kini kian materialisme dan konsumtif. Masyarakat yang tidak mampu menyerap budaya yang masuk akhirnya pun mulai tergerus dengan adanya pendatang. Untuk meyakinkan fenomena ini saya kembali berkunjung ke salah seorang rumah warga yaitu Saudara Eric, Beliau mengatakan:  

“Budaya kekota-kotaan mulai memengaruhi masyarakat, yang semula dulu tidak kenal karaoke jadi kenal, dan mulai ada prostitusi serta ada yang bercerai”.

Melihat fenomena diatas cukuplah menyedihkan, masyarakat masih mengalami kemiskinan pada negara yang kaya ini. Perlu diketahui juga bahwa pembebasan lahan mulai terjadi pada tahun 2008. Semenjak saat itu seiring waktu masyarakat mulai merasakan dampak negatif dari adanya pertambangan. Sulitnya mencari pekerjaan dan mengingat lahan sawah sudah semakin sempit. Hingga suatu hari ada beberapa masyarakat yang melakukan demo agar diberikan pekerjaan oleh pihak proyek migas. Karena sebelum-sebelumnya yang mendapatkan pekerjaan hanya orang dari luar daerah yang sudah dibawa oleh perusahaan. 

Setelah kejadian tersebut barulah terbit peraturan pemerintah daerah pada tahun 2011 terkait migas yang ada di Bojonegoro, dimana salah satu peraturannya mewajibkan perusahaan untuk mempekerjakan masyarakat sekitar. Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah kenapa harus menunggu luapan derita dari masyarakat, baru akhirnya pemerintah turun tangan, dan bukannya memikirkan jauh hari saat akan menerima proyek migas yang sudah jelas akan melibatkan masyarakat. 

Akan lebih baik jika dipikirkan lebih matang mengingat bahwa proyek pertambangan yang ada di Indonesia selama ini berasal dari modal asing, dan yang mengelola pun juga asing. Sementara yang menjadi korban ujung-ujungnya adalah masyarakat pribumi. Maka seberapa besar hal itu berkontribusi untuk negeri khususnya untuk masyarakat. Sementara diketahui dalam pasal 33 UUD pasal 3 menyatakan Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Sehingga seharusnya realisasi tambang dipergunakan tidak lain adalah untuk kemaslahatan rakyat atau masyarakat Indonesia. 

Diyah |

Mahasiswa Malang. Dengan tulisan semua isi hati dan pikiran dapat tercurahkan

blog comments powered by Disqus