Marak, Penolakan Terhadap Pengusahaan Energi Panas Bumi dalam Kawasan Hutan

Rab, 21 Des 2016 22:41 WIB

  Berita

 listrikpanasbumi

atmin

Oleh : Dhani Armanto

WARTA HIJAU. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menilai bahwa berbagai proyek pengusahaan energi panas bumi banyak menyebabkan perusakan hutan. Hal tersebut merupakan salah satu sebab Walhi menolak PLTP di wilayah konservasi dan wilayah rentan lainnya di Indonesia.

Dwi Sawung (35), pengkampanye Walhi menyatakan, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) akan selalu disertai dengan pembangunan jalur akses.  Jika lokasi PLTP terletak di dalam kawasan hutan, maka pembangunan jalur aksesnya pasti merusak, sekaligus memudahkan terjadinya perusakan hutan di areal sekitarnya.

“Sekali ada akses terhadap kawasan konservasi, maka akan rusak kawasan tersebut, karena nanti ada anggapan umum bahwa kenapa kegiatan itu boleh sedangkan kenapa kegiatan ini tidak diizinkan?,” ungkap Dwi Sawung.

Penolakan terhadap pembangunan PLTP juga dilakukan oleh Komunitas Save Cihaur di Jawa Barat.  Komunitas ini adalah tempat berkumpulnya organisasi dan individu yang peduli pada penyelamatan kawasan Ciharus, yang menjadi bagian dari Cagar Alam Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.  

Pepep (32), pegiat komunitas Save Cihaur, dengan tegas menyatakan bahwa komunitas Save Ciharus menolak penggunaan kawasan cagar alam sebagai lokasi eksplorasi maupun eksploitasi panas bumi dan kegiatan merusak lainnya.

Lebih jauh, ia menyoroti soal perusakan yang terjadi di Kamojang, Darajat, dan Wayang Windu sebagai akibat pengusahaan energi panas bumi.  Menurutnya, perusakan yang terjadi terhadap kawasan hutan oleh kegiatan PLTP tidak dapat diterima, sehingga segala kegiatan yang merusak di kawasan konservasi itu harus dihentikan, dan kerusakan yang terjadi harus segera direhabilitasi.

Hal senada juga disampaikan Budi Prabowo AT (36), pegiat di organisasi Kompleet Purwokerto, Jawa Tengah.  Budi menyampaikan, Kompleet bersama beberapa organisasi lainnya di Purwokerto sejak awal sudah menolak rencana pembangunan PLTP Baturraden.  Lokasi pembangunan PLTP yang terletak di dalam kawasan hutan Gunung Slamet inilah yang menjadi dasar penolakannya.

Menurut Budi, menerima pembangunan PLTP Baturraden di kawasan hutan Gunung Slamet sama saja dengan merelakan rusaknya hutan dan keanekaragaman hayatinya, serta merelakan masyarakat menerima dampak buruknya kemudian hari.

Penelusuran Warta Hijau menemukan banyak penolakan yang dilakukan masyarakat terhadap pembangunan PLTP.  Sebagian karena kekhawatiran atas risikonya, sebagian lainnya karena dampak negatifnya yang memang sudah terjadi.

Catatan Antara (19/3/10), I Gusti Ngurah Suryantha Putra, sewaktu menjabat sebagai Sekretaris Komisi III DPRD Provinsi Bali (19/3/2010) kepada Antara menyatakan bahwa Bali menolak pengusahaan geothermal.  Menurutnya, penggunaan energi dari geothermal di Bedugul, Bali, sebagaimana yang direncanakan oleh pemerintah pusat tidak layak dan berisiko.  

Salah satu dasar pertimbangan Suryantha adalah kunjungan kerja ke Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah, yang pernah dilakukannya semasa menjabat sebagai anggota DPRD Kabupaten Tabanan, Bali.  Dari hasil kunjungan tersebut, menurutnya, baru sepuluh tahun pembangkit listrik tenaga panas bumi di Dieng berdiri, tiga sungai di wilayah tersebut sudah kering dan hutan sekitarnya habis.

Masyarakat Bali tidak menginginkan hal tersebut.  “Bagi saya, geothermal adalah alternatif ke sepuluh, itu jika tidak ada alternatif atau pilihan lain,” ungkapnya.

Penolakan lain yang terjadi belum lama ini adalah penolakan yang dilakukan oleh Bupati Karanganyar, Juliyatmono terhadap rencana pembangunan PLTP di Gunung Lawu.  Kepada Tribunnews.com (8/10/2015),  Juliyatmono mengakui bahwa Gunung Lawu memiliki potensi panas bumi yang besar, akan tetapi menurutnya risiko kerusakan alam dan lingkungannya lebih besar daripada potensinya.

"Fungsinya Lawu untuk penghijauan dan sumber air, bukan untuk kepentingan lain, apalagi kok untuk dieksplorasi untuk diambil energinya, kalau untuk penghijauan saya setuju,” tegasnya. 

atmin |

Redaksi Warta Hijau.com. Akun ini digunakan untuk mempubliksikan pengumuman dari redaksi.

blog comments powered by Disqus