Memperingati Hari Ibu, 25 Ibu di Kalimatan Timur Menggugat Tambang

Jum, 23 Des 2016 05:35 WIB

  Berita

 korbanlubangtambang

dhaniarmanto

Peringatan Hari Ibu

Peringatan Hari Ibu.  Di lubang tambang yang ditinggalkan tanpa penanganan, para ibu di Kalimantan Timur ini memperingati Hari Ibu sambil menuntut keadilan atas tenggelamnyaanak-anak mereka di lubang tersebut.  Foto : Istimewa / Jatam Kaltim

Wartahijau – Peringatan Hari Ibu, 22 Desember 2016, 25 ibu di Kalimantan Timur (Kaltim) tengah menanti kepastian hukum dan harus menerima kenyatan pahit atas penanganan kasus kematian anak mereka yang “berjalan di tempat”.

Penyidikan kasus yang nyaris tanpa transparansi dan lamanya proses penanganan hukum, menimbulkan pertanyaan pada Kepolisian Kaltim. Hanya satu kasus yang maju ke pengadilan, sementara ada puluhan kasus lain masih mengendap di kepolisian.

“Keadilan tenggelam bersama lumpur kejahatan 17 konsesi tambang di Provinsi ini,” ucap Mareta Sari dari Tim Kerja Perempuan dan Tambang (TKPT).

Sudah lebih dari lima tahun, Keadilan untuk 16 anak di Kota Samarinda (26 anak di Kaltim) yang tewas di lubang tambang tak kunjung mendapatkan kabar memuaskan. Adalah Rahmawati, Nuraeni, Muliana dan Marsini, empat ibu ini yang dengan tegas menolak diam menunggu di rumah menanti peran pemerintah.

Bersama dengan aktivis lingkungan, mereka memasang plang “Lubang Ini Digugat” di lokasi lubang bekas tambang. Peringatan tanda bahaya agar pemerintah hadir di kawasan berbahaya ini.

Komitmen dan aksi mereka jelas menuntut pemerintah segera menutup lubang-lubang bekas tambang yang berbahaya. “Kami tidak akan berhenti sampai negara menutup lubang tambang dan menghukum perusahan-perusahaan ini,” kata Rahmawati, ibu dari almarhum M Raihan Saputra yang menjadi salah satu anak korban lubang tambang.

Pradarma Rupang dari Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim, menganggap komitmen pemerintah untuk melindungi warganya dari ancaman lubang tambang hanya sebatas retorika pencitraan. Menurut Pradarma Rupang, pemerintah selalu berlindung di balik alasan “kami percayakan pada proses hukum”.

“Walau sadar bahwa pemerintah pusat sudah menyebut ini kejahatan luar biasa, seharusnya langkah-langkah luar biasa pula yang dilakukan,” ucap Pradarma Rupang.

Berdasarkan catatan Jatam Kaltim, ada 232 lubang tambang yang mengancam dan lebih dari setengahnya berada dekat dengan pemukiman warga. Sebagaian besar dari lubang-lubang tersebut tidak menjalankan ketentuan-ketentuan soal pengawasan dan keamanan seperti yang dimuat dalam keputusan menteri ESDM nomor 55/K/26/MPE/1995. Tak ada pagar pengaman dan tanda-tanda mengenai bahaya lubang tambang serta tidak ada pengawasan di sekitar area bekas lubang tambang.

TKPT dan Jatam Kaltim mendesak Pemerintah Kota Samarinda untuk segera bertindak, pertama, Menghentikan seluruh kegiatan pertambangan di dekat pemukiman se-Kota Samarinda; Kedua, Melakukan audit lingkungan menyeluruh di kota Samarinda; Ketiga, Memerintahkan seluruh perusahaan tambang untuk menutup semua lubang tambangnya di seluruh Kota Samarinda.

“Samarinda lebih mirip toilet, karena industri tambang hanya mampir mengeruk sumber daya alam, meninggalkan lubang, penggundulan hutan, menghancurkan dan meracuni sawah-sawah serta sumber air. Sejak awal kebijakan sudah terlihat tanpa dibarengi akal sehat, maka tidak mengherankan jika semangatnya datang, gali dan pergi tinggalkan kerusakan untuk pribumi,” tandas Pradarma Rupang.

Selamat hari Ibu! Perempuan menuntut Keadlian dan keselamatan bagi anak. Ibu Bumi restui Perjuangan ini!

dhaniarmanto |

Orang biasa, dengan hobi yang biasa-biasa saja, yang sedang belajar membaca dan bercerita.

blog comments powered by Disqus