Menahan Sawit dan Batubara dengan Tembawang

Sen, 30 Jan 2017 12:49 WIB

  Foto fotonovela

 lombafotonovelawartahijau lombafoto foto kalimantanbarat tembawang

arminhari

Bagi sebagian masyarakat Dayak yang mendiami Pulau Kalimantan, khususnya di bagian barat, semenjak dahulu mereka memiliki pola permukiman berpindah-pindah mengikuti pola perpindahan lahan-lahan pertanian dan perkebunan mereka. Di lokasi-lokasi yang mereka tempati, sebagai penanda daerah pengelolaan, mereka akan menanam berbagai jenis tanaman sebagai sumber bahan makanan, bumbu, dan tanaman buah. Mengikuti perjalanan zaman, mereka juga mulai menanam tanaman keras seperti karet dan tengkawang di daerah tersebut. Meskipun demkian, tidak semua tanaman tersebut dikelola secara sengaja oleh masyarakat Dayak, beberapa tanaman lainnya dibiarkan tumbuh secara alami dalam proses regenerasi alam seperti tanaman rotan, tumbuhan merambat, semak, dan herbal. Daerah tersebut kemudian dikenal sebagai tembawang.

Dalam fungsi dan pengelolaannya, tembawang dibagi menjadi tempat klasifikasi, yakni (1) tembawang umum yang bisa dimanfaatkan secara bersama-sama oleh penduduk dalam satu atau beberapa kawasan; (2) tembawang waris tua yang telah dimiliki oleh antara tiga hingga enam generasi oleh kelompok masyarakat yang memiliki satu turunan; (3) tembawang waris muda yang berbentuk kawasan yang dimiliki antara satu hingga dua generasi yang dimanfaatkan secara bersama-sama oleh keluarga besar; dan (4) tembawang pribadi yaitu tembawang muda yang dimiliki secara perorangan.

Di beberapa daerah di Kalimantan Barat, fungsi dan nilai tembawang ini masih dijaga keberadaannya. Dengan alas pikir bahwa tembawang memiliki berbagai fungsi, seperti fungsi dan nilai konservasi, ekonomi, perekat sosial budaya, dan ekologis. Dan diyakini bahwa pemeliharaan dan keberadaan tembawang ini adalah salah satu hazanah budaya masyarakat Dayak untuk melawan himpitan dan gempuran tak henti-hentinya dari para pengusaha dan perusahaan perkebunan kelapa sawit, dan tentu saja pertambangan.

Pagi itu, di Desa Sinar Kuri, Kecamatan Sungai Laur, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, hiruk pikuk masyarakat yang didominasi oleh perempuan dan anak-anak berbondong-bondong masuk ke dalam kawasan tembawang. Kali itu, tanaman durian yang jumlahnya tidak bisa dihitung dalam kawasan konservasi adat Dayak tersebut mulai bisa dipanen. Secara turun-temurun, tembawang yang luasnya belum dipetakan secara pasti tersebut dijaga dan dikelola secara adat oleh kelompok masyarakat Dayak yang mendiami daerah ini.

 

Semenjak pagi buta, masyarakat Desa Sinar Kuri, didominasi oleh para perempuan dan anak-anak, masuk ke dalam kawasan tembawang untuk memanen beberapa pohon buah, khususnya durian, untuk dikonsumsi sendiri atau dijual di sepanjang jalan utama desa ini. (Ketapang, 28/06/2014 © Armin Hari)

 

Pada hari-hair libur sekolah, anak-anak di Desa Sinar Kuri juga turut membantu orang tua mereka untuk memetik durian dan tanaman buah-buah lainnya yang dikonsumsi oleh keluarga, atau dijadikan sebagia sumber penghidupan bagi mereka. (Ketapang, 28/06/2014 © Armin Hari)

 

Pengenalan tentang fungsi dan nilai tembawang yang diajarkan semenjak kecil kepada masyarakat Dayak diharapkan mampu membuat mengerti dan akan menjaga keberlangsungan keberadaannya di masa mendatang. Dengan melibatkan anak-anak dalam kegiatan mengambil hasil di tembawang, adalah salah satu cara untuk memperkenalkan mereka kepada tembawang. (Ketapang, 28/06/2014 © Armin Hari)

 

Di dalam kawasan tembawang, pada musim panen tanaman buah, masyarakat Desa Sinar Kuri juga mendirikan naungan sementara agar mereka bisa terhindar dari air hujan dan sebagai tempat beristirahat di malam hari sembari menjaga dan menunggu jatuhnya buah durian dari pohonnya. (Ketapang, 28/06/2014 © Armin Hari)

 

Buah durian yang dipanen dalam kawasan tembawang biasanya untuk dikonsumsi oleh keluarga dan kerabat, dan juga untuk dijual di pinggir-pinggir jalan utama Desa Sinar Kuri. (Ketapang, 28/06/2014 © Armin Hari)

 

Siapa saja dalam kawasan Desa Sinar Kuri memiliki hak yang sama dalam pemanfaatan tembawang untuk tujuan penghidupan masyarakat. (Ketapang, 28/06/2014 © Armin Hari)

 

Dengan naungan sementara yang mereka dirikan dalam kawasan tembawang digunakan untuk menginap dan menunggu jatuhnya buah durian dari pohonnya. (Ketapang, 28/06/2014 © Armin Hari)

 

Durian tembawang Desa Sinar Kuri sangat terkenal di sepanjang jalan yang menghubungkan Ketapang dengan daerah-daerah lainnya di Kalimantan Barat. Pohon durian tersebut telah ditumbuhkan semenjak beberapa generasi silam, dan saat ini juga mulai ditanami kembali oleh masyarakat Dayak setempat. (Ketapang, 28/06/2014 © Armin Hari)

 

Selain fungsi dan nilai konservasi, hasil dari kawasan tembawang juga memberikan dukungan penghidupan kepada masyarakat Dayak sebagai sumber pendapatan. (Ketapang, 28/06/2014 © Armin Hari)

 

Tembawang telah memberikan sumber penghidupan bagi masyarakat Dayak di kawasan ini. Selain itu, tembawang juga menjaga mereka dari perampasan dan pengalihan fungsi lahan oleh perusahaan-perusahaan perkebunan kelapa sawit dan tambang. (Ketapang, 28/06/2014 © Armin Hari)

 

Tak hanya tanaman buah yang dihasilkan dari tembawang, ibu-ibu di Desa Sinar Kuri juga memanfaatkan hasil tembawang berupa rotan dan bambu untuk diolah menjadi bahan kerajinan yang memiliki nilai ekonomi. (Ketapang, 28/06/2014 © Armin Hari)

 

Tembawang juga memampukan para perempuan di sekitar kawasan untuk bisa berpartisipasi secara ekonomi. (Ketapang, 28/06/2014 © Armin Hari)

 

Menjaga dan merawat tembawang tentu saja menjadi investasi berkelanjutan bagi generasi masyarakat Dayak. (Ketapang, 28/06/2014 © Armin Hari)

arminhari |

Sebagian besar berdomisili di Makassar dan/atau Yogyakarta. Menekuni fotografi semenjak 2008 dengan modal kamera pinjaman dari kakaknya. Saat ini, lebih banyak mengarahkan bidikannya kepada isu-isu ketidak adilan dan pemiskinan berbasis gender. Bercita-cita menjadi seorang kepala keluarga yang baik.

blog comments powered by Disqus