Menuai Keuntungan dari Pertambangan Timah Melalui Penderitaan

Kam, 19 Jan 2017 09:27 WIB

  Esai

 lombaesaiwartahijau esai lombaesai

galih

Banyak yang beranggapan bahwa sektor pertambangan merupakan penunjang perekonomian nasional yang memiliki potensi besar dan dapat menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun nyatanya berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2014 sektor industri pertambangan hanya berada di urutan kelima sebagai penyumbang pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sektor pertambangan masih berada di belakang industri manufaktur, sektor perdagangan, sektor pertanian, dan sektor konstruksi sebagai penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu dapat dilihat bahwa sektor non-pertambangan dapat lebih bisa dimaksimalkan sebagai penunjang ekonomi dibandingkan sektor pertambangan. Namun sayangnya di beberapa daerah sektor pertambangan masih menjadi tumpuan utama perekonomian daerahnya.

Beberapa provinsi masih menggantungkan perekonomiannya pada sektor pertambangan. Contohnya adalah Provinsi Kalimantan Timur dimana sektor pertambangannya menyumbang hampir 50% dari Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) di provinsi tersebut. Padahal tercatat total ada 21 sektor yang bisa menjadi penunjang ekonomi di provinsi yang terletak di timur pulau Kalimantan itu. Kekayaan alam berupa bahan tambang yang melimpah menjadikan provinsi tersebut nyaman sejak dulu dengan kegiatan pertambangan, padahal cadangan bahan tambang bisa habis sewaktu-waktu. Jika pemerintah provinsi tidak membuat sektor lainnya lebih berperan dalam menyumbang PDRB-nya, maka perekonomian daerah tersebut bisa jatuh kapan saja.

Provinsi lain yang masih mengandalkan sektor pertambangan adalah Kepulauan Bangka Belitung. Sejak memisahkan diri dari Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2000, Kepulauan Bangka Belitung sangat menggantungkan perekonomiannya melalui kegiatan pertambangan dan penggalian timah. Pada tahun 2001 pertambangan dan penggalian timah menyumbang 40% dari PDRB Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Namun pada tahun 2014 proporsi sektor tersebut dalam menyumbang PDRB hanya menurun menjadi 34%. Hal ini disebabkan oleh semakin menurunnya produksi timah di sana dan harga timah dunia yang terus meningkat. Perusahaan pertambangan baik milik negara maupun milik swasta terus-menerus mengeruk timah di provinsi ini. Belum lagi penambang-penambang liar yang tidak bertanggungjawab dalam menjalankan kegiatan pertambangannya.

Munculnya penambang liar bukan tanpa sebab, melainkan karena perizinan yang tidak jelas, pengawasan yang tidak ketat, suap-menyuap izin pertambangan dan berbagai hal lainnya. Oleh karena itu pertambangan timah menjadi sporadic dan tidak terkendali. Hal ini yang nantinya menimbulkan berbagai dampak negatif bagi lingkungan dan masyarakat. Jelas bahwa bukan hanya perusahaan pertambangan timah saja namun pemerintah baik pusat dan daerah turut bertanggungjawab atas kerusakan tersebut. Dampak buruk dari kegiatan pertambangan timah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dibedakan menjadi dampak lingkungan, dampak kesehatan, dan dampak ekonomi.

Dampak lingkungan dari pertambangan timah sudah jelas akan merusak ekosistem. Pertambangan timah dilakukan di berbagai tempat seperti hutan, daerah pinggiran sungai, pinggir pantai, dan laut. Jika dilihat dari udara ceruk-ceruk bekas galian tambang timah berada di dekat hutan-hutan atau perkebunan warga. Hal itu disebabkan oleh pembukaan hutan dengan sengaja untuk melakukan kegiatan pertambangan timah. Dampak dari pertambangan juga merusak ekosistem sungai. Bekas pasir galian dialirkan ke sungai sehingga logam-logam berat akan mencemari sungai dan mengancam kehidupan makhluk hidup di sungai. Selain itu pasir yang dialirkan ke sungai akan mengendap di dasar sungai sehingga menyebabkan pendangkalan sungai. Ini lah yang ditengarai menjadi penyebab banjir besar di Pulau Bangka pada bulan Februari hingga Maret 2016. Kota Pangkal Pinang yang minim akan kegiatan tambang timah terkena dampak negatif dari pertambangan timah di wilayah lain. Pantai-pantai di sini yang terkenal indah perlahan tercemar oleh limbah penggalian timah. Belum lagi penambangan timah yang dilakukan di laut sekitar Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dimana merusak terumbu karang dan habitat ikan dan biota laut lainnya.

Dampak kesehatan merupakan dampak yang dialami oleh penduduk di sekitar pertambangan timah. Lubang-lubang bekas galian tambang timah akan menampung air hujan dan menjadi sarang nyamuk. Oleh karena itu banyak masyarakat pulau Bangka dan Belitung mengidap penyakit demam berdarah, malaria, dan penyakit tropis lainnya yang dibawa oleh nyamuk. Logam-logam berat juga bisa mencemari air tanah dan air sungai sehingga kemungkinan menimbulkan berbagai penyakit bahkan kematian bagi masyarakat yang mengonsumsinya. Dinas Kesehatan Provinsi Bangka Belitung memperkirakan terjadinya radiasi akibat pertambangan timah ini. Bahkan Kepulauan Bangka Belitung menjadi daerah nomor dua terbesar di Indonesia yang menghasilkan radiasi. Akibat dari radiasi ini pun diperkirakan menimbulkan penyakit-penyakit bagi masyarakat.

Terakhir, dampak ekonomi menjadi dampak yang cukup mempengaruhi kehidupan masyarakat di sekitar pertambangan timah. pertambangan timah yang semakin lama semakin bergeser ke pantai menyebabkan ekosistem terganggu. Banyak hewan pesisir pantai seperti kerang, kepiting, udang, dan lainnya mati. Akibatnya nelayan kecil tidak bisa mengambil hewan-hewan tersebut untuk dikonsumsi mau pun dijual. Selain itu lemahnya sektor ekonomi lain seperti perdagangan, pertanian, perikanan dan sebagainya membuat masyarakat terlalu bergantung kepada sektor pertambangan. Saat ini harga timah dunia sedang turun dan banyak dari pekerja di pertambangan timah di-PHK (Putus Hubungan Kerja). Karena sektor lainnya tidak kuat, maka banyak dari mereka yang menganggur.

Kini timbul pertanyaan, bagaimana usaha pemerintah dan perusahaan dalam menangani dampak-dampak tersebut? Jika penulis bepergian ke sana dengan pesawat, terlihat dari udara banyak bekas lubang-lubang galian timah menganga begitu saja tanpa ditutup kembali. Hal ini membuktikan bahwa pemerintah daerah dan perusahaan tambang tidak melakukan rehabilitasi terhadap lingkungan yang sudah rusak. Hal ini cukup aneh karena saat mengajukan izin melakukan pertambangan, ada kewajiban yang harus dipenuhi oleh perusahaan tambang yaitu merehabilitasi bekas aktivitas tambang. Pengawasan dan penindakan harus lebih digalakkan karena hal seperti ini mengurangi keelokan dari pulau Bangka itu sendiri. Ceruk-ceruk dibiarkan menganga begitu saja, sehingga membahayakan masyarakat.

Pada akhirnya kami lah yang menerima semua dampak ini, sementara pundi-pundi keuntungan mengalir ke kantung pemilik modal. Kami dipekerjakan dengan bayaran serendah-rendahnya, namun mereka menuai profit yang sebesar-besarnya. Kami lah yang harus menanggung biaya pengobatan keluarga kami akibat terserang penyakit malaria, kami lah yang terpaksa meminum air yang mungkin mengandung logam berat dan membahayakan diri kami, kami lah yang menjadi saksi atas kerusakan lingkungan tempat kami yang bisa bicara namun dibisukan oleh kekuasaan. Kekayaan alam kami tidak membantu menyejahterakan dan memberikan penghidupan yang lebih baik untuk kami.

Kini produksi timah semakin berkurang. Untuk menghindari dari timbulnya pengangguran, pemerintah daerah harus menguatkan sektor-sektor non pertambangan. Saat ini sektor pertanian dan pariwisata cukup menjanjikan. Harga komoditas lada saat ini sedang meningkat hingga Rp150.000 per kilogram. Sementara sektor pariwisata juga menjanjikan dengan keindahan alam yang dimiliki provinsi ini khususnya wisata pantai dan perairan serta wisata sejarah. Pengembangan sektor non pertambangan merupakan solusi yang tepat bagi Kepulauan Bangka Belitung agar tidak terlalu menggantungkan perekonomiannya di sektor pertambangan. Dengan begitu pembuatan lubang-lubang pertambangan baru akan berkurang dan pemerintah daerah bisa fokus untuk mengembalikan lingkungan yang rusak akibat pertambangan timah.

galih |

Gemar menulis sejak SMA, Galih yang berkuliah di Universitas Indonesia program studi Ilmu Administrasi Negara beberapa kali memenangi perlombaan menulis esai dan artikel tingkat nasional. Tak hanya itu, pemuda 21 tahun ini juga pernah mengirimkan karya-karyanya ke media cetak. Permasalahan sosial, pemerintahan, dan ekonomi menjadi tema besar dari tulisan yang pernah dibuatnya. Telah menetap di Kota Depok selama lebih dari 15 tahun membuatnya memiliki keinginan untuk berpetualang ke tempat lain. Terakhir, Galih selalu memandang kegagalan merupakan sebuah proses, bukan hasil. Maka jika gagal, ia tidak akan berhenti pada proses itu.

blog comments powered by Disqus