Monster Penghancur itu bernama Batubara

Sen, 30 Jan 2017 21:46 WIB

  Esai Berita

 lombaesaiwartahijau lombaesai

Srikanti

Sejak sejarah mencatat eksistensi wilayah-wilayah di sekitar Kalimantan Timur ini, yang dimulai di zaman Kutai Martadipura abad 4 Masehi, Kaltim sudah masyhur dengan kekayaan sumber daya alamnya. Para kafilah dan ekspedisi dagang yang berdatangan ke Kaltim dari berbagai suku bangsa menjadi bukti yang tak bisa disangkal. Para pendiri dinasti Kutai Martadipura misalnya, lazimnya diyakini sebagai keturunan para Brahmana yang datang dari daratan India. Lalu disusul bangsa China, yang peninggalannya banyak berupa guci-guci berharga, yang belakangan bagi komunitas Dayak dijadikan barang yang sakral, ketika mereka menemukannya di tengah hutan ataupun di bawah tanah. Lalu berdatangan juga bangsa-bangsa Eropa dan dari bumi Nusantara sendiri (Belanda, Inggris, Jawa, Bugis, dlsb.).Salah satu motif utama hadirnya bangsa-bangsa ini adalah ekonomi yang berbasis pada sumber daya alam.

Emas, batubara, minyak, kayu gelondongan, adalah komoditi-komoditi khas yang banyak diburu dan diperdagangkan dari wilayah ini. Dan cerita eksploitasi ini bersambung dan terus berlangsung sampai hari ini di era yang katanya modern dan beradab.

Samarinda, ibukota Provinsi Kalimantan Timur ini dihuni oleh lebih dari 800.000 jiwa (BPS Kota Samarinda 2015). Samarinda dikenal sebagai kota tepian dengan keelokan sungai Mahakam yang meliuk membelah kota. Sungai ini menghubungkan Samarinda sampai ke hulu Mahakam di gunung Apo Kayan yang berbatasan dengan negeri tetangga, Malaysia. Mahakam menjadi saksi bisu penghancuran Kalimantan Timur, dimana semua komoditi diangkut melalui jalur sungai ini.

Saat ini, komoditi yang sedang digenjot habis-habisan adalah batubara. Kaltim merupakan provinsi pengobral izin pertambangan terbanyak di negeri ini. Lebih dari 1200 izin tambang yang telah diterbitkan oleh pemeritah kabupaten/kota di Kaltim dan 32 izin dari pemerintah pusat. Ratusan atau bahkan ribuan lubang-lubang tambang dibiarkan mengangga, sebagai prasasti penghancuran ini. Investasi jangka pendek dengan memperkosa bumi dan menjajah kaum papa terus berlangsung sampai hari ini. Memang VOC telah sirna dari negeri ini, tapi sejatinya rakyat Kaltim tak pernah lepas dari penjajahan dan penghisapan para kapitalis rakus ini.

Investasi jahat ini telah menghancurkan ruang-ruang hidup rakyat. Sawah, ladang, hutan, sungai, gunung, habis dibabat atas nama kesejahteraan dan pelipatgandaan kekayaan. Pertanyaannya, kekayaan untuk siapa? Toh, faktanya desa dan kampung-kampung terdekat dari tambang-tambang ini adalah yang termiskin dan paling memprihatinkan kondisinya saat ini.

Samarinda; Kota Horor Pemangsa Anak

Makroman,salah satu desa di pinggir Kota Samarinda yang selalu di bangga-banggakan dengan kejayaan daulat pangannya sejak tahun 2000,kini hanya dongeng pengantar tidur. Sejak masuknya perusahaan tambang batubara pada tahun 2007, terjadi kerusakan dan kehancuranyang hebat. Bukit-bukit menjadi lubang, air yang dulunya jernih menjadi keruh, udara penuh polusi,penurunan debit air yang menyebabkan sumur-sumur kering, di musim hujan terjadi banjir lumpur, musim panas tanah menjadi kering, sawah-sawah retak, terbelah tak mendapat pasokan air. Bahkan air menjadi beracun yang menyebabkan mahluk hidup tidak bisa bertahan lebih lama.

Baharuddin (50), ketua kelompok Tani Tunas Muda Makroman sangat dirugikan oleh investasi busuk ini. Sejak masuknya perusahaan batubara milik CV.Arjuna, lahan pertanian dan budi daya ikannya hampir-hampir tak memberikan penghidupan lagi. Konsesi pertambangan yang nyaris tak berjarak dengan lahan pertanian dan sawahnya ini sangat merusak. Air menjadi tercemar. Sebelum masuknya perusahaan, beliau mampu menghasilkan padi hingga 7 ton /hektar setiap kali panen, kini hanya 3-4 ton padi saja. Usaha budidaya ikan yang dulunya mampu menghasilkan 100-150 juta setiap kali panen, kini hanya mencapai 40 juta. Jika musim hujan datang, limbah dari kolam bekas tambang ini meracuni kolam ikannya yang menyebabkan ikan-ikan menggelepar, mati. Banjir lumpur pun tak bisa di hindari lagi dan merusak sawahnya. Desember 2016 lalu, ia telah merugi puluhan juta rupiah dengan matinya indukan ikan nila satu kolam akibat limbah tambang dan tidak ada ganti rugi dari perusahaan.

Sawah yang dulu produktif, kini sudah tidak lagi berfungsi karena pasokan air yang terus berkurang. Hingga sebagian sawah Pak Bahar kini ia gunakan sebagai lahan kering yang ia tanami cabai. Penurunan angka pendapatan pertanian dan budidaya ikan ini sangat signifikan, lebih dari 50%. Pak Bahar dan warga sekitarnya dulu aktif mengadakan syukuran setiap kali panen raya dengan mengundang pemerintah kota. Namun sudah lebih dari 3 tahun belakangan,“ritual” ini tak pernah lagi diadakan karena tingkat pendapatan yang terus terjun bebas. Pemerintah kota pun hingga kini belum ada respon positif menanggapi keluhan-keluhan warga.

Lain soal dengan Rahmawati (40), Ibunda Raihan (10), anak korban kesembilan yang tewas di lubang bekas galian tambang milik PT. Graha Benua Etam (GBE). Walau sudah lebih dari dua tahun sejak kematian anak nomor duanya, perempuan paruh baya ini masih menyimpan luka yang mendalam. Apalagi disaat beliau menceritakan pengalamannya mencari keadilan atas kematian anaknya. Beliau sudah beberapa kali ke Jakarta, melaporkan perihal anaknya ke pusat-pusat kuasa politik. Bahkan mengikuti berbagai aksi, membuat petisi.Namun,tetap tak ada tindakan yang berarti dari pemerintah terhadap perusahaan yang mencabut nyawa anaknya itu.

Samarinda saat ini, 71% wilayahnya dikapling oleh perusahaan batubara, itu artinya kita semua, warga kota ini bertetangga dengan bencana dan monster yang sangat ganas. Belum lagi ada sebanyak 232 lubang bekas galian tambang batubara milik 32 perusahaan, yang dibiarkan mengangga tak direklamasi. Data JATAM menyebut, hingga detik ini sudah 26 anak mati sia-sia di lubang tambang batubara. Ironisnya, jangankan pagar pengaman, papan peringatan pun tak pernah dipasang dikolam-kolam maut tersebut. Namun pemerintah hingga saat ini masih buta dan tuli. Sudah tahu investasi kotor ini menghilangkan puluhan nyawa dan menyebabkan bencana ekologi, namun tak pernah ada punishment bagi perusahaan perusak itu.

Motto Samarinda Kota Tepian (Teduh, Rapi, Aman, Nyaman) sudah tak cocok lagi dengan kondisi Samarinda saat ini. Banjir yang selalu menggenangi kota ini di kala hujan;ruang terbuka hijau yang nyaris tak ada; puluhan anak-anak mati tenggelam di lubang bekas galian tambang;adalah bukti nyata betapa rasa aman dan nyaman adalah barang mewah bagi warga Samarinda. Pesut Mahakam sebagai maskot Kota Samarinda nampaknya hanya tinggal kenangan, karena tak seekor pesut pun dapat hidup di sungai-sungai kota ini, akibat terjadi pendangkalan hebat dan tercemar limbah tambang. Program Kaltim Green yang telah dicanangkan 6 tahun lalu oleh orang nomor satu di provinsi ini pun, nampaknya hanya sebatas slogan kosong tanpa makna. Bagaimana mungkin Kaltim Green dapat terwujud, jika luasan kota dan daratan lebih kecil dari luas areal konsesi pertambangan batubara. Hingga muncul celotehan satir dari para aktifis lingkungan, bahwa Kaltim Green bisa terwujud dengan mengecat seluruh bangunan di provinsi ini dengan warna hijau.

Dalam catatan JATAM Kaltim, sebelum adanya perampingan Izin Usaha Pertambangan (IUP) dari Non Cleanand Clear menjadi Clean and Clear, terdapat 1.488 IUP yang terdapat di Kaltim dengan luasan mencapai 5,4 juta hektar. Ini belum termasuk dalam bentuk Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) sebesar 1,8 juta hektar, yang izinnya dikeluarkan oleh pemerintah pusat melalui Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Pasca CNC tahun 2016, terjadi penurunan jumlah IUP menjadi 1.201. Namun pengurangan jumlah IUP ini tidak berbanding lurus dengan penciutan luasan dan kawasan pertambangan. Justru meningkat menjadi 6,2 juta hektar, belum termasuk luasan dari izin PKP2B yang 1,8 juta hektar.

Pertambangan batubara merupakan salah satu investasi yang menuang polemik ditengah-tengah masyarakat Kaltim. Pembangunan ekonomi palsu nan rapuh ini telah banyak merugikan rakyat. Eksploitasi tambang batubara ini telah meninggalkan dan mewariskan penderitaan panjang bagi masyarakat lokal. Konsesi pertambangan di Kaltim hingga saat ini telah merubah bentang alam dari hutan dan lahan-lahan pangan menjadi danau-danau yang dibiarkan menganga dan beracun. Sungguh sempurna wajah monster batubara ini sebagai pembunuh dan penghancur paripurna kehidupan...!!

Srikanti |

Lahir di Kutai Timur pada 02-02-1992. Tertarik pada isu lingkungan dan perempuan terutama di bumi Borneo yang semakin hancur.

blog comments powered by Disqus