Perempuan itu Bernama Mbok Jumi

Sel, 20 Des 2016 08:55 WIB

  Berita Esai

 10tahunlapindo lombaesai lombaesaiwartahijau

firdauscahyadi

Perempuan itu bernama Mbok Jumi. Ia adalah pengungsi korban lumpur di Sidoarjo. Perempuan itu berusia 52 tahun. Pada Minggu, 30 November 2008 silam, Mbok Jumi menghembuskan nafas terakhirnya.  Ia meninggal dunia dengan tetap menyandang status sebagai korban lumpur.


Sekitar bulan Juni 2008, Mbok Jumi mulai merasakan sakit luar biasa di perutnya. Sakit di perutnya itu yang kemudian menghantarnya menghadap Sang Pencipta. Pada saat itu keluarga Mbok Jumi membawanya ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sidoarjo. Sekitar dua minggu Mbok Jumi dirawat di rumah sakit itu. Namun, karena tak mampu membiayai ongkos rumah sakit, keluarga Mbok Jumi membawanya pulang ke pengungsian korban lumpur di Pasar Baru Porong. 


Keluarganya pun pasrah. Selanjutnya, Mbok Jumi dirawat dengan menggunakan pengobatan alternative seadanya. Celakanya, dalam keadaan sakit kronis seperti itu Mbok Jumi masih terpaksa melewati hari-harinya di pengungsian korban lumpur. 


Luapan lumpur di Sidoarjo telah menghancurkan rumah Mbok Jumi di Desa Renokenongo. Menurut penuturan Sugiyat, anak tunggal Mbok Jumi, seperti yang ditulis di web korban Lapindo, rumah keluarganya terendam lumpur setelah muncul ledakan pipa gas Pertamina. Namun, air yang telah menggenangi rumahnya sejak hari pertama munculnya semburan lumpur memaksa keluarga tersebut meninggalkan rumahnya untuk menjadi pengungsi. 


Seperti biasa, setiap ada kerusakan ekologi di Indonesia, selalu saja muncul pro dan kontra. Ada yang bilang bahwa kerusakan ekologi itu adalah akibat ulah manusia. Namun, sebagian lainnya bilang itu adalah bencana alam alias takdir Tuhan. Di negeri yang katanya berdasarkan Pancasila, mengkambinghitamkan Tuhan dalam sebuah kasus lingkungan hidup adalah hal yang biasa. Hal itu pula yang terjadi dalam kasus lumpur Lapindo.
Berbeda dengan nasib Mbok Jumi yang akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya dengan masih berstatus korban lumpur. Lapindo, berlahan namun pasti semakin bersih dari persoalan semburan lumpur di Sidoarjo. Dan jika benar-benar bersih, bukan tidak mungkin Lapindo akan mengeksploitasi kembali kekayaan migas yang ada di bawah bumi Sidoarjo.


Nasib mujur Lapindo dimulai dengan digunakannya istilah lumpur Sidoarjo bukan lumpur Lapindo. Penggunaan istilah yang kemudian diakomodasi pemerintah itu bukan kebetulan. Penggunaan istilah lumpur Sidoarjo secara berlahan menghilangkan Lapindo dari pusaran kasus itu.


Nasib mujur Lapindo terus berlanjut. Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur pun mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) kasus pidana Lapindo. Bukan itu saja, uang masyarakat yang ada di APBN pun juga dikucurkan untuk ikut menanggulangi dampak semburan lumpur. Kontras sekali dengan nasib pilu Mbok Jumi yang tidak bisa berobat di RSUD Sidoarjo.  


Mbok Jumi perempuan setengah baya yang akhirnya menghembuskan nafas terakhir itu seperti menjadi monument dari ketidakadilan social yang sering terjadi di daerah operasional industri tambang. Industri tambang yang selalu mendatangkan uang bagi pemilik perusahaan namun tidak jarang mendatangkan malapetaka bagi penduduk sekitar. Perempuan dan anak-anak adalah pihak yang seringkali menjadi korban utama dari malapetaka industri tambang tersebut.


 

firdauscahyadi

Blogger, penulis kolom opini di media massa, pekerja sosial, trainner penulisan, konsultan media analisis dan komunikasi organisasi masyarakat sipil.

blog comments powered by Disqus