Perempuan, Padi dan Tambang

Sab, 28 Jan 2017 15:41 WIB

  fotonovela

 lombafoto

abdallah

 

Yang paling merasakan Daya Rusak Tambang Batubara adalah perempuan. Mengapa? Karena perempuanlah paling “dekat” dengan ekologinya. Air, pangan dan ruang sosial ekologi menjadi hal utama yang dibongkar dan dirusak oleh Tambang.   

Di Makroman Samarinda Kalimantan Timur terdapat  salah satu kawasan Pertanian yang dihajar industri rakus lahan ini. Kampung ini dihuni mayoritas warga transmigrasi asal Jawa sejak tahun 1980-an.  Mereka kini harus berhadapan dengan perusahaan pertambangan batubara CV Arjuna yang menguasai lahan 1. 452 hektar dan PT Panca Prima Mining yang mencaplok lahan seluas 950,20 hektar sejak tahun 2008.  

Gunung yang dibongkar d ihulu persawahan di RT 13 sudah berubah menjadi lubang lubang tambang yang tidak direklamasi. Setidaknya ada 6 lubang raksasa yang terdapat di Makroman berisi air limbah batubara. Air ini juga yang dialirkan ke lahan pertanian warga.

Situasi ini menyebabkan menurunya hasil pertanian. Ibu Norbaeti bersama warga lainnya  menggarap lahan 384 hektar sawah. hasil panen sebelum CV Arjuna masuk  dapat memproduksi  rata rata 6-7 ton gabah setiap 1 hektar. Kini menurun drastis hanya mampu memproduksi sekitar 3-4 ton setiap hektarnya. Ibu Norbaeti sendiri  hanya mampu menghasilkan sekitar 2 ton gabah dengan luas lahan hampir mencapai satu hektar.  Tambang batubara membuang perempuan jauh dari ruang hidupnya.  

Ibu Norjannah salah seorang warga sedang berusaha mengusir burung yang mengganggu padinya di Makroman. Lahan sawah miliknya sekitar 1 hektar ini sudah rusak karena operasi tambang semakin mendekat. Pengairan sawahnya juga sudah rusak.Caption
Seorang ibu sedang bekerja di sawahnya. Di belakannya ada seorang pengawas tambang berada di sekitar persawahanya. Sawah ini adalah paling pertama berhadapan dengan limbah penempuangan yang dibuang langsung ke persawahan meraka.
Salah satu alat berat eksavator meluluhlantakan kebun buah milik warga. kawasan ekosistem pertanian di Makroman terdiri dari kebun buah dan persawahan. Dua duanya dihajar oleh tambang.

 

Cara Kerja tambang adalah merusak seluruh sumber sumber kehidupa yang ada dipermukaan, lalu menggali sedalam hingga 50-70 meter dengan luas 5 kali lapangan sepakbola.  Lubang ini hingga kini tidak ditutup. Dibiarkan menganga.

 

Seorang ibu memperlihatkan limbah batubara berupa lumpur yang masuk ke dalam sawahnya. “lihat. Ini lumpur dari lubang tambang. padi saya rusak karenanya. Siapa yang bertanggung jawab”? kata dia 

 

Petani perempuan paling merasakan bagaimana kehadiran tambang Batubara. Kehadiran tambang membuat mereka semakin sulit memenuhi sumber pangan untuk keluarga.
Warga sibuk memanen padinya. Sawaha di makroman menggunakan sistem tadah hujan. Mereka sangat mengandalkan sistem mata air yang ada di hulu. Jika mata air rusak bisa dipastikan akan mengganggu pertanian mereka.

 

Seorang ibu sibuk memasukan bulir bulir padinya ke dalam karung yang baru saja dia penen. Sementara tambang batubara di sampingnya sibuk mengeruk mengangkut memasukan ke dalam truk untuk dibawah ke luar Kalimantan.  


#LombaFotonovelaWartaHijau

Foto-foto oleh abdallah Naem 

abdallah |

Tinggal di Kota Samarinda, tertarik pada isu isu ekologi. perempuan dan kebudayaan lokal di Borneo Timur.

blog comments powered by Disqus