Sedulur Kendeng: Kami Lelah dan Tidak Menyerah

Sen, 30 Jan 2017 02:27 WIB

  Berita Foto fotonovela

 kendengmelawan lombafotonovelawartahijau tambangsemenkendengutara lombafoto

Natasya

Panen Jagung, Sukolilo, Pati

Ini cerita tambang dari kami. Kami adalah Sedulur Kendeng (Utara); bukan hanya Rembang, bukan hanya Pati, bukan hanya Sedulur Sikep. Ini cerita kami yang lahir, hidup, bertahan, dan menyambut kematian di tanah yang begitu subur. Sawah dan ladang kami tak kurang untuk menghidupi anak cucu. Tapi, mereka bilang tanah kami tak subur, tanah kami mandul. Mereka muncul di tempat-tempat kami, mengganggu langit, memperkosa tanah, meracuni air; mengahancurkan kami.

Longmarch Kendeng #1

Mbok Sukinah

Ini bukan kali pertama kami saling bersandar. Kami pernah melawan di Rembang, hingga satu Tenda Juang masih tegak berdiri meski awalnya tak lepas dari kepungan dan popor senjata. Ternyata itu tak cukup. Kami mendatangi Tuan-Tuan yang terlibat dari sebuah tempat belajar ternama di Jogja. Tak juga cukup. Hingga kami memutuskan untuk berjalan kaki dari Pati hingga Semarang, semata untuk Menjemput Keadilan. Menyedihkan bukan? Mungkin kemerdekaan memang bukan milik kami, sampai-sampai kami harus meminta untuk mendapatkan keadilan yang jelas-jelas adalah hak kami, hak rakyat. Bukankah kami ini rakyat? Tak apa-apa. Kami masih bertahan untuk melawan. 

Atas Perhatiannya Terima Kasih

 

Petani Butuh Lahan!

Dua malam satu hari kami tempuh untuk dapat sampai di Semarang. Ingin kami sederhana, mengetuk hati yang berlapis baja dan kosong di bagian dalamnya. Kami ingin menyapa hati siapa saja yang masih penuh dengan belenggu kuasa. Satu per satu saudara baru terus menghampiri kami, menguatkan tiap jejak dan kepal tangan. Dan kali ini kami menang di PTUN Semarang, tapi, kami tahu ini bukan kemenangan yang akhir. Bukan kali pertama kami dimenangkan untuk dikalahkan. Tak apa, kami tetap mengucap terima kasih pada Tuan dan Puan.

Kami masih berjalan lagi. Ya, ini kali kedua kami melakukan aksi Longmarch. Tidak lagi dari Pati tetapi Rembang, tepatnya Desa Tegaldowo tempat salah satu Tambang Semen berniat menggusur kehidupan kami. Perjalanan kali ini lebih panjang, kami berhenti di setiap kota untuk sekadar menyadarkan tubuh dan menghindari dinginnya jalanan. Tapi, kami bersyukur, kami masih sempat menyambut lelap tiap malam, tidak seperti sebelumnya, meski terluka, penuh dengan rasa terbakar; baik di kaki, di wajah, bahkan di dada, kami tetap terus berjalan. Kepada Ibu Bumi kami haturkan syukur karena kali ini kami dapatkan sejuknya hujan dalam perjalanan. 

Menumpuk Lelah

Malam ini, kami dipersilahkan singgah oleh saudara-saudara kami di Gereja Evangelista Kudus. Kami disambut dengan makanan dan minuman hangat, tak lupa karpet yang melindungi kami dari dingin. Kaki kami linu, tulang-tulang kami berdecit saat bergerak, memang penuh pilu. Kadang, kami rindu rumah dan halaman, atau sawah jelang panen. Tak jarang kami mengurai air mata, tapi kami masih harus berjuang, untuk anak cucu kami; untukmu, kalian, mereka. Rasa menggigil  ini masih tak mampu mengalahkan cinta kami pada kalian yang kami perjuangkan. 

Semangat MBak Gunarti

Kami mencoba bersabar dalam perjuangan panjang ini. Tak banyak dari kami yang mampu menenangkan api  yang bergejolak tak karuan di dalam diri kami. Mbak Gunarti, Ia salah satu yang selalu menjaga kobaran semangat kami agar tetap menyala satu demi satu—agar tak padam. Meski tak banyak bergolak namun tenang agar tetap terus ada; bukan sekejap membara lalu tiada.

Tenda Juang #2 Semarang

Diadu dengan Sesama Tertindas

Mulai Tenda Juang Rembang, Aksi Kepung UGM, Longmarch Kendeng Menjemput Keadilan, Aksi Semen Kaki di Istana, hingga Longmarch Kawal Kendeng telah kami jalani. Jangan salah, itu hanya perjuangan kami yang 'tampak', konsistensi kami tidak melulu bicara soal eksistensi. Tapi sayang, belum juga menuai hasil panen yang membahagiakan, atau meminjam istilah Tuan dan Puan; menyejahterakan. Kami lelah bukan kepalang. Tapi kami tetap memutuskan untuk melanjutkan perlawanan; Selamat Datang di Tenda Juang Semarang!

Lihat di hadapan kami? Itu adalah saudara-saudara sependeritaan, korban-korban penindasan. Sama seperti kami bukan? Tapi, mereka justru menghadang kami, berlawanan arah dengan tempat kami berdiri. Sedih. Sungguh kami hanya mampu melihat paras-paras mereka yang tersenyum penuh kemenangan, meski entah apa yang sebenarnya sedang mereka rayakan, selain ego diri tentunya. Mereka berkali-kali mendatangi kami, mengatasnamakan diri dari berbagai aliansi; nelayan, sesama petani, pekerja seni, hingga akademisi.

Percayalah, kami sama sekali tak berkeinginan untuk menerjang saudara apalagi sependeritaan. Coba sedikit saja Tuan dan Puan gunakan hati tanpa perlu banyak argumentasi. Berhentilah membodohi kami dengan berbagai lobi, kami sudah lebih dari sekadar keki. Tak mampu juga kami membeli solidaritas apalagi membiayai aliansi-aliansi sulapan yang mungkin juga hanya ingin memenuhi kebutuhan. Kami memang hanya punya hati, empati, dan mawas diri, bukan amplop-amplop berisi. 

 

 

Kami Lelah dan Tidak Menyerah

Tuan, Puan, perjuangan kami tidak singkat, sudah bertahun dan terus berjalan. Kami lelah, sangat lelah. Tapi kami tidak menyerah. Kami menolak pasrah!

Natasya |

Mahasiswi serabutan yang sedang berusaha menemukan kehidupan selain banalitas manusia.

blog comments powered by Disqus