Tak Hanya Manusia, Hewan pun Mulai Merasakan Daya Rusak Tambang

Kam, 24 Nov 2016 11:26 WIB

  Berita

 banyuwangi pertambangan pt bsi tumpang pitu

k4lt1m

[caption]Gunung Tumpang Pitu tampak dari lokasi tambang emas tradisional[/caption]

Warta Hijau - Rusaknya ekosistem dan ancaman terhadap kehidupan satwa akibat aktivitas tambang emas PT Bumi Sukses Indo (BSI) mulai dirasakan warga di sekitar Gunung Tumpang Pitu, Desa Pesanggaran, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, Jawa Timur.

Hal ini diketahui saat Tim Warta Hijau mendatangi warga yang bermukim di sekitar pertambangan, Kamis (24/11/2016). Mereka mengatakan, binatang yang biasanya tidak pernah turun ke pemukiman warga kini sering dijumpai.

“Semenjak tambang emas beroperasi, orang-orang sini sering melihat kijang turun dari gunung dan berkeliaran di pemukiman,” ujar Paino (68), salah satu warga yang sudah tinggal enam tahun di Pesanggaran.

Paino yang sehari-hari ikut menambang tradisional ini, menambahkan bahwa binatang yang sering turun gunung tidak hanya kijang, tapi juga ada babi hutan. Hal ini dikarenakan lahan hutan perbukitan yang mulai terambah oleh aktivitas pertambangan.

Sekitar 200 meter dari rumah Paino, warta hijau  melihat pemandangan yang mencengangkan, irigasi dengan lebar kurang lebih tiga meter yang semula untuk mengairi persawahan kini menjadi aliran pembuangan limbah tambang emas. Warna kekuningan bercampur lapisan lumpur terlihat di sepanjang irigasi.

Sebelumnya, kekhawatiran dampak pertambangan emas di Gunung Tumpang Pitu sudah pernah diungkapkan oleh Rosdi dari Banyuwangi Forum For Enviromental  Learning (BAFFEL), saat memberikan keterangan ke  Mongabay edisi 13 Maret 2016. Rosdi mengatakan, bila eksploitasi dilanjutkan, dikhawatirkan akan memicu migrasi satwa dari kawasan pertambangan.

Masih menurut Rosdi, hasil inventarisasi Amdal PT IMN menyebutkan bahwa ada beberapa jenis hewan mamalia yang hidup di Gunung Tumpang Pitu. Selain itu ada juga Elang Laut yang pernah dilihat langsung olehnya..

No Author

Sorry, there is something wrong.

blog comments powered by Disqus