Tambang Semen: Antara Janji Ekologi dan Investasi

Sen, 30 Jan 2017 23:22 WIB

  Esai

 lombaesaiwartahijau daruratkendeng

aditya2

Pembangunan pabrik PT Semen Indonesia di Rembang, Jawa Tengah yang terkesan dipaksakan oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo bisa jadi berkaitan langsung dengan jumlah investasi yang telah ditanamkan. Sebab, untuk apa bersusah payah mengakali hasil keputusan MA yang memenangkan gugatan atas izin lingkungan PT Semen Indonesia, toh nyatanya konsumsi semen di Indonesia selama ini masih berada di kondisi surplus.

Setelah MA membuat keputusan yang memihak kepada warga Rembang, Ganjar diketahui tak tinggal diam dan mengeluarkan izin baru, ia berkilah itu adalah adendum. Ternyata, di balik keluarnya adendum, diketahui Semen Indonesia telah menggelontorkan rupiah yang tidak bisa dibilang sedikit untuk investasi.

Guna konstruksi sipil, pemasangan mesin dan peralatan, serta elektrikal dan instrumentasi dari pabrik mereka harus mengeluarkan Rp3,7 triliun. Jika batal, ada potensi pendapatan senilai Rp2,1 triliun yang juga hilang. Makanya, segala cara coba ditempuh Semen Indonesia, mereka menyatakan siap merevisi segala SOP berdasar masukan berbagai pihak. Atau memang pahit-pahitnya harus ditutup, maka mereka meminta pabrik semen yang lain juga diberi treatment yang sama.

“Kami enggak bisa, kenapa yang lain bisa? Wong kami punya solusi yang lebih hebat dan mahal,” begitu kira-kira yang diucapkan Agung Wiharto, sekretaris perusahaan Semen Indonesia.

Indonesia Kelebihan Semen

Sementara kehendak terus dipaksakan, fakta menyatakan konsumsi semen di Indonesia terjadi surplus. Badan Pusat Statistik dan Asosiasi Semen Indonesia mencatat tahun 2015 produksi semen mencapai 75,29 ton, namun konsumsinya hanya mencapai 60,4 juta ton.

Jumlah konsumsi tersebut memang bertumbuh dibanding tahun sebelumnya, namun sangat tipis, hanya sekitar 0,67 persen saja. Ada kelebihan sekitar 15 juta ton dari data tersebut, jelas, tak butuh pabrik semen baru untuk menambah jumlah semen yang harus mangkrak tak terbeli di toko bangunan.

Walau begitu, para pengusaha semen tetap optimis, proyek pembangunan yang ditargetkan Presiden Jokowi selesai di tahun 2019 menjadi alasan. Sebuah riset sederhana dilakukan media analisis Tirto yang menghitung perkiraan konsumsi di tahun-tahun mendatang berdasar data konsumsi selama 13 tahun dan menggunakan metode forecasting.

Dalam ekonomi dan bisnis, metode ini biasa digunakan untuk memperkirakan penjualan, produksi, ataupun konsumsi pada suatu waktu mendatang berdasarkan data-data sebelumnya. Dari data-data yang tersedia, didapatkan prediksi konsumsi semen pada 2020 sebesar 78,72 juta ton. Memang peluang bisnis yang menggiurkan.

Jika terus berjalan, pabrik semen di Rembang ini diprediksi akan menyumbang sekitar tiga juta ton kebutuhan produksi. PT Semen Indonesia juga memiliki andil sebesar 33 persen dari total produksi semen di seluruh Indonesia. Perusahaan ini juga menguasai 42 persen pangsa pasar dalam negeri.

Pembangunan pabrik di Jawa mendapat prioritas, hal ini dikarenakan permintaan pasar di Jawa lebih besar dibanding pulau-pulau lain. Menurut data Asosiasi Semen Indonesia, lebih dari setengah konsumsi semen berada di Jawa.

Konsumsi di Sumatera hanya 21 persen. Sedangkan pulau-pulau besar lainnya tak sampai sepuluh persen. Sementara, khusus untuk Semen Indonesia, Jawa Tengah dipilih karena mereka hanya memiliki satu pabrik di provinsi tersebut, yakni di Cilacap.

Tambang Semen Hilangkan Sumber Air

PT Semen Indonesia mengklaim, memiliki teknologi mahal dan lebih maju untuk menjamin sumber air yang dikhawatirkan hilang oleh para warga Rembang., Mereka berjanji, pembangunan pabrik tak akan menghilangkan sumber air, sebaliknya, sistem-sistem perairan akan dibangun untuk memudahkan distribusi air warga. Benarkah demikian?

Dalam produksi semen, terlebih dulu dilakukan penambangan batugamping. Aktivitas pengupasan menggunakan bahan peledak dan alat-alat berat menjadikan batugamping mengalami pemadatan secara fisik dan penyumbatan saluran-saluran kapiler, penghubung antara permukaan dan bawah permukaan. Hal ini yang membuat air yang tadinya terserap dengan baik akan menjadi aliran permukaan.

Biasanya, pabrik semen akan mengantisipasi aliran permukaan dengan membuat saluran-saluran pengendali, dalam dokumen AMDAL cara ini pula yang akan dilakukan Semen Indonesia. Sayangnya, langkah antisipasi ini malah membuat air hujan yang awalnya terserap dengan baik dan menjadi pensuplai bagi mata air, berubah menjadi air limpasan permukaan.

Dampaknya, mata air-mata air akan mengalami penurunan suplai dari daerah resapan atau bahkan hilang pada saat musim kemarau. Pada musim hujan, karena tidak ada proses penyaringan oleh daerah resapan, mata air akan menjadi keruh dan mengalami penurunan kualitas sebagai air baku.

Hal inilah yang sekiranya terjadi di areal pertambangan batugamping untuk industri semen di kawasan Cibinong. Batugamping asli yang belum mengalami aktivitas penambangan memiliki laju infiltrasi 54mm/jam.

Batugamping yang sudah ditambang dan direklamasi dan ditanami dengan tanaman yang tumbuh dengan baik memiliki laju infiltrasi 12mm/jam. Sedangkan batugamping yang ditambang dan tidak direklamasi memiliki laju infiltrasi 1mm/jam (Djakamihardja & Mulyadi, 2013). Dampaknya, banyak mata air hilang di kawasan tersebut, sehingga masyarakat sekitar harus menampung air hujan di musim penghujan dan harus membeli air pada musim kemarau.

Reklamasi pada batugamping yang telah ditambang hampir pasti tidak bisa dilakukan, karena unsur-unsur utama batugamping yang menjadi bagian dari proses ekologis sudah hilang karena pertambangan. Beberapa syarat batugamping untuk berproses menjadi kawasan karst seperti ketebalan batugamping, tutupan lahan dan waktu pelarutan sudah tidak lagi terpenuhi.

Jadi, masih percaya janji tambang tak merusak ekologi?

 

aditya2 |

Hobi ngetik, tinggal di Ciputat

blog comments powered by Disqus