Tolak Penambangan emas di Gunung Tumpang Pitu, warga berusaha bertanggung jawab kepada generasi mendatang

Kam, 24 Nov 2016 08:15 WIB

  Berita -

 pt bsi pulau merah tambang emas banyuwangi tumpang pitu

trenggalek

Sukam menceritakan bagaimana perlawanan masyarakat Dusun Pancer dalam menolak pertambangan emas didesanya. (Foto: Handrik Styawan)

Oleh : Jhe Mukti

Warta Hijau - Sukam (35), warga Dusun Pancer, Desa Sumberagung adalah salah seorang tokoh pemuda yang ikut serta dalam gerakan penolak tambang emas di Banyuwangi, Jawa Timur. Masa lalunya di Sumatera menjadi modal baginya untuk mengetahui seperti apa pola-pola perlawanan dan pelemahan terhadap gerakan-gerakan penolakan tambang.

Dari pengalamannya itu, dia pun menjelaskan kepada masyarakat di Dusun Pancer apa saja yang akan terjadi jika tambang emas di Gunung Tumpang Pitu tetap dilaksanakan, dan apa saja yang akan dilakukan oleh kekuasaan serta pihak penambang terhadap orang-orang yang melawannya. “Saya sampaikan juga ke istri, kalau akan terjadi begini-begitu. Istri sayapun membenarkan pernyataan saya itu setelah semuanya terjadi,” katanya.

Menurutnya, dalam gerakan penolakan yang diakukan oleh masyarakat, mereka pasti akan diadu domba. “Kita itu akan ditembak dengan dua cara. Yang pertama ditembak pakai uang, kalau masih belum mempan, ya akan dicari-cari kesalahan kita,” jelasnya.

[caption id="attachment_445" align="aligncenter" width="812"]img_20161124_111303 Gunung Tumpang Pitu terlihat dari Pantai Mustika Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi. (Foto: Jhe Mukti)[/caption]

Penambangan emas yang ada di Gunung Tumpang Pitu memiliki riwayat panjang. Seluas 1.942 hektar Status Hutan Lindung Gunung Tumpang Pitu (HLGTP) diturunkan melalui surat keputusan oleh Menteri Kehutanan Dzulkifli Hasan saat itu dengan Nomor SK.826/Menhut –II/2013.

Setelah Bupati Ratna Ani Lestari menghentikan izin eksplorasi Hakman Group dengan terbitnya surat bernomor 545/513/429.022/2006 tanggal 20 Maret 2006, pada waktu yang tidak terlalu lama muncul SK Bupati dengan nomor 188/57/KP/429.012/2006 tertanggal 23 Maret 2006 tentang Pemberian Kuasa Pertambangan Penyelidikan Umum yang ditujukan kepada PT Indo Multi Cipta (IMC) untuk jangka satu tahun.

Perusahaan ini kemudian hari berganti nama menjadi PT Indo Multi Niaga (IMN) dan lewat surat nomor 188/05/KP/429.012/2007, PT IMN mengantongi Kuasa Pertambangan Eksplorasi seluas 11.621,45 ha. (Walhi Jatim 2016)

Pada tahun 2012, PT IMN mengalihkan Izin Usaha Pertambangannya kepada PT Bumi Suksesindo (BSI), anak perusahaan PT Merdeka Copper Gold, Tbk. PT BSI memiliki Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (IUP OP) berdasarkan Surat Keputusan Bupati Banyuwangi No.188/547/KEP/429.011/2012 tanggal 9 Juli 2012, sebagaimana terakhir kali diubah dengan Keputusan Bupati Banyuwangi, No. 188/928/KEP/429.011/2012 tertanggal 7 Desember 2012.

Dari riwayat yang panjang itu, Beberapa kali terjadi benturan antara warga dengan pihak perusahaan. Terakhir pada November 2015, terjadi benturan dan beberapa masyarakat tertembak. Ada juga yang ditangkap aparat.

“Ada delapan orang yang ditangkap, yang masih ditahan sampai saat ini  masih tiga orang, yang lainnya sudah dibebaskan,” imbuh Sukam saat diwawancarai oleh Warta Hijau, Kamis (24/11/16).

Masyarakat menyadari bahwa pertambangan tidak mampu menyejahterakan mereka. Sebagaimana yang disampaikan Sundir, Ketua Kelompok Masyarakat (Pokmas) Pantai Mustika, bahwa mereka lebih sejahtera sebagai nelayan dan mengelola wisata di Pancer. “Lebih baik mengelola wisata daripada nambang,” katanya.

Dengan apa yang terjadi sekarang dan yang menimpa teman-temannya itu, Sukam mengatakan bahwa sebaiknya masyarakat jika mau melakukan perlawanan terhadap tambang, harus dimulai semenjak semua itu belum terjadi. Karena menurutnya, jika sudah ditetapkan oleh pemerintah, rakyat kecil tidak akan bisa berbuat apa-apa.

“sekarang kami sudah tidak mampu untuk menggagalkan semua itu. Setidaknya kami sudah berjuang secara maksimal, jika suatu saat nanti kami dituntut oleh anak cucu, kami bisa mengatakan bahwa kami sudah mati-matian berjuang,” Pungkas Sukam.

No Author

Sorry, there is something wrong.

blog comments powered by Disqus