Wajah Ekstraksi Tambang Batubara di Mugirejo

Kam, 26 Jan 2017 23:38 WIB

  fotonovela

 lombafotonovelawartahijau

ikhabota

Jika saja bumi bisa mengekspresikan perasaan dan emosinya. Mungkin dia sudah kering kerontang, kekeringan air mata terus-terusan menangis. Juga tak salah jika saya menganalogikan BUMI ini ibarat perempuan cantik yang digilai karena kemolekannya. Tubuhnya ditelanjangi dan diperkosa oleh anaknya sendiri. Oleh Kita. Oleh manusia. Kepada alam semesta yang telah memberinya makan. Memberinya kehidupan!  Sehingga bencana adalah cara alam berkomunikasi dengan manusia bahwa ia tak mau diperlakukan semena-mena.

Kerap kali saya berjumpa dengan situs-situs kerusakan akibat industri keruk tambang batubara yang  menjalar hingga ke sudut-sudut kota di Samarinda. Bagaimana sebuah kampung yang dihuni oleh masyarakat menjadi porak-poranda akibat operasi alat berat yang  membongkar tanah dan gunung, menebang pohon, menimbun sawah, dan menggusur rumah.

Foto ini berisi pengalaman Ibu Dewi Sartika, salah seorang pejuang perempuan dalam mempertahankan ruang hidup melawan tambang batubara di kampungnya, RT 17, Kelurahan Mugirejo, Samarinda. Salah satu tempat ijin pertambangan berkelindan, menguasai lahan tak tanggung-tanggung sebesar  71% kota Samarinda dengan 63 izin pertambangan yang dikeluarkan pemerintah. Penanda kerusakan terlihat di mana-mana, lubang tambang, banjir, jalan rusak, gunung terkelupas.

Sebuah paradoks yang saya temui, ketika negara dengan undang-undangnya berkata “Bumi, Air, dan Kekayaan alam yang terkandung di dalamnya, dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar KEMAKMURAN RAKYAT”.

Aktivitas alat berat milik PT. Cahaya Energi Mandiri menggali batubara di RT 17, Kelurahan Mugirejo, Samarinda. Masuknya perusahaan di RT 17 menggunakan alasan reklamasi. Katanya pembongkaran gunung dilakukan untuk menutup salah satu lubang tambang yang berada di sekitar pemukiman dan berdampingan dengan kebun sayur. Tapi, kenyataannya, selain membongkar gunung untuk mengambil material tanah, perusahaan juga sambil menggali dan mengangkut batubara untuk dijual
Salah satu sumber mata air yang digunakan warga Mugirejo dulunya berasal dari gunung. Namun, kini telah dibongkar untuk diambil batubaranya oleh perusahaan PT. Cahaya Energi Mandiri dan berubah menjadi kubangan
Tanah yang digali perusahaan untuk diambil batubaranya, kini menghasilkan lubang tambang berisi air beracun dan dialirkan ke parit agar tidak meluap saat hujan. Warga Mugirejo dari dulu hingga kini menggunakan parit tersebut untuk mandi dan mencuci. Namun kini tercemar karena air limbah lubang tambang bercampur dengan aliran mata air tersebut.
Lubang tambang adalah salah satu penanda rejim ekstraksi yang menjadi ancaman dan teror kematian di Kalimantan Timur. Sudah terdapat 26 korban tewas tenggelam yang kebanyakan adalah anak-anak. Pemerintah dan perusahaan lalai dalam hal tanggung jawab melakukan reklamasi. Samarinda memiliki 232 lubang tambang yang tersebar, termasuk di Mugirejo. Bekas PT. Cahaya Energi Mandiri. Lokasi ini berada di samping perumahan Jokowi. RT 17, Kelurahan Mugirejo, Samarinda.

 

Lokasi ini dulunya adalah bekas kebun warga Mugirejo. Namun, kini berubah menjadi areal tambang. Ini hanya satu dari sekian banyak lahan pertanian yang harus mengalah demi kepentingan tambang batubara
Jarak area tambang dengan rumah Ibu Dewi Sartika hanya sekitar 30 m. Dari beranda rumah, bisa terlihat operasi alat berat dan mobil perusahaan yang lalu lalang menggali gunung depan rumah. Dewi Sartika pernah ditawari uang 50 juta rupiah dari PT. CEM agar tidak melakukan protes. Tapi ia tolak. Karena yang dia inginkan, perusahaan harus angkat kaki dari kampungnya.
Wajah pertambangan memporak-porandakan kampung di RT. 17, Kelurahan Mugirejo, Samarinda. Mereka membongkar gunung, menebang pohon, dan menggusur rumah warga.
Kegiatan tambang tak mengenal waktu. Siang ataupun malam. 24 jam dalam sehari, perusahaan terus beroperasi, menggerogoti isi perut bumi. Warga terus terpapar debu dan suara bising. Perusahaan terus untung, dan warga setempat yang menanggung kerugian.

 

Kebun sayur warga yang berdampingan dengan lokasi pertambangan cukup mengganggu tumbuh kembang tanaman. Akhirnya si pemilik kebun membiarkan tanahnya untuk ditambang dan diberi uang ganti rugi sebesar 2 juta rupiah tanpa sempat memanen. “Yang punya kebun terpaksa biarkan tanahnya ditambang, karena percuma juga bertani di dekat tambang, susah tumbuh. Dia diberi uang ganti rugi 2 juta dari perusahaan” Ucap Dewi Sartika sambil menunjukan kebun sayur tetangganya

 

Produksi hasil pertanian kelompok wanita tani “Dewi Sartika” di Kelurahan Mugirejo mengalami kerugian akibat terpapar debu, dan bahan pembuatannya semakin berkurang akibat tambang. Produknya pun ditolak untuk dipasarkan oleh suplayer, dengan alasan berada di area tambang dan tidak menyehatkan. “Saya rugi puluhan juta, produk kami harus berhenti di kirim keluar. Mereka tidak mau lagi terima dari kami karena katanya tidak sehat akibat ada tambang. Karyawan saya  juga banyak yang berhenti karena rugi” (Dewi Sartika)
“Tambang itu seperti malapetaka di kampung saya. Tidak ada bagus-bagusnya. Air kami hilang, mata pencarian kami juga hilang, bencana di mana-mana. Sekarang kampung kami seperti kampung hantu. Seperti tidak ada peradaban di dalamnya. Warga juga jadi terpecah belah. Dan banyak dari kami yang sudah terusir, pindah dari kampung ini. Semuanya gara-gara tambang!” ungkap Dewi Sartika menggebu-gebu. Sambil menyaksikan alat berat menggerogoti tanah di kampungnya.

#LombaFotonovelaWartaHijau

ikhabota |

Alumni UIN Alauddin Makassar. Saat ini sedang melakukan penelitian di Samarinda terkait Industri Ekstraktif dan dampaknya bagi ruang hidup, terutama perempuan dari lembaga Sajogyo Institute. Volunteer di Rumah Buku Cara Baca Makassar, Aktif di komunitas seni Sanggar Rakyat Kepanasan (SRK) oleh Cara Baca.

blog comments powered by Disqus